Article

Semoga bermanfaat

Kebangkitan Nasional Melalui Pembangunan Generasi Unggul Menuju Indonesia Emas

2

Photo : Pendidik harus menjadi role model

 

Salah satu tantangan yang muncul dalam laporan World Economic Forum terkait dengan daya saing global (2019) yaitu pentingnya keseimbangan antara integrasi teknologi dan sumber daya manusia (SDM) untuk meningkatkan produktivitas. Sumber daya manusia merupakan faktor kunci dalam menghadapi perkembangan teknologi. Proses pembentukan SDM yang memiliki kualitas terbaik serta berdaya saing tinggi yang mampu menghadapi  persaingan global menjadi modal dasar yang harus diutamakan. Generasi dan masyarakat yang mampu menyelaraskan antara kemajuan teknologi dengan penyelesaian masalah sosial melalui system yang terintegrasi menjadi inti dalam Society 5.0 atau masyarakat 5.0.  Pengembangan dan pemanfaatan teknologi harus berorientasi pada kebutuhan manusia (Human-centered Technology).

Perubahan yang sangat cepat dan persaingan yang sangat ketat  menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi  ditengah era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity). Diperlukan kemampuan untuk meningkatkan kapasitas diri untuk menjadi manusia yang lebih adaptif dan handal agar bisa bertahan serta mampu memberikan kontribusi untuk bangsa ini.

Kondisi ini disadari betul  oleh banyak instansi, bahwa untuk menjaga keberlanjutan usahanya diperlukan upaya untuk menciptakan budaya (culture) positif bagi para pegawainya. Namun demikian, terkadang “gagal fokus” karena budaya hanya dipandang sebagai pengetahuan tambahan. Sebaik apapun strategi, jika tidak didukung budaya kerja dari para pegawainya maka instansi tersebut akan mengalami kesulitan dalam menjaga keberlanjutan usahanya. Dalam kehidupan berbudaya dan bermasyarakat, kebiasaan seseorang (habit) merupakan  tindakan individu yang dilakukan secara terus menerus, sedangkan budaya (culture) adalah kebiasaan yang menjadi ciri suatu masyarakat dalam lingkungan tertentu. Kebiasaan seseorang (habit)  akan  mempengaruhi dirinya, dan terus akan mempengaruhi lingkungan yang lebih besar, sehingga akhirnya menjadi budaya suatu masyarakat bahkan suatu bangsa. 

Kemajuan suatu bangsa  sangat bergantung dari kebiasaan individu-individu di dalamnya dan budaya dari masyarakatnya. Membangun budaya yang baik dari suatu bangsa adalah syarat cukup untuk membangun peradaban yang berkelanjutan dari bangsa tersebut. Dengan demikian, untuk menuju ke arah tersebut, kebiasaan setiap individu di dalamnya harus dipupuk ke arah yang lebih baik.  

Di masa pandemi COVID-19 telah memaksa sebagian besar dari kita ke dalam isolasi dan mendefinisikan kembali “kondisi normal” dalam kehidupan pribadi dan pekerjaan. Sebagian besar dari kita bekerja dari rumah, hal ini membawa tantangan baru dalam menjaga kehidupan kerja kita berbeda dari kehidupan pribadi kita. Dengan kondisi sekarang ini, mungkin akan menjadi kebiasaan (habit) pada masa mendatang, paska pandemic. Efek pandemi terkadang bisa membuat kita kehilangan motivasi. Padahal bekal kemampuan dan motivasi yang tinggi akan dapat melahirkan berbagai peluang untuk kita. Peluang ini tak layak ditunggu, namun harus diburu dan diciptakan. Saat ini, banyak orang beranggapan bahwa kita harus menghindari suatu masalah, padahal dari setiap masalah selalu ada peluang yang bisa manfaatkan dan memberikan kontribusi positif yang dampaknya tidak hanya untuk diri sendiri bahkan juga untuk orang lain. Setelah masa pandemi berakhir, akan sangat banyak bermunculan peluang usaha baru, yang kemungkinan belum terpikirkan sebelumnya. Karena itu, memaksimalkan kombinasi dari kemampuan, motivasi dan pemanfaatan peluang merupakan kebiasaan yang signifikan dalam membentuk budaya yang baik.

Untuk menciptakan budaya yang baik maka dibutuhkan peningkatan kapasitas diri sendiri, kita perlu melakukan continuous quality improvement (peningkatan kualitas diri secara berkelanjutan). Perlu disadari, bahwa dalam diri kita ini selalu ada room for improvement. Apabila kita menelisik diri kita masing-masing pasti selalu ada kesempatan untuk berintrospeksi dan memperbaiki diri (muhasabah). Kita seyogyanya bisa melakukan introspeksi (evaluasi diri) dan melakukan pengukuran terhadap performansi kinerja masing-masing.  Kenapa hal tersebut penting? Karena kita tidak akan pernah bisa melakukan peningkatan kualitas apabila kita tidak pernah tahu ukuran kualitas diri kita masing-masing. Dengan melakukan dua hal ini, Self Evaluation dan Performance Measurement, kedepan kita akan bisa melakukan Continuous Quality Improvement untuk diri kita masing-masing, sehingga kapasitas kita meningkat.

Harapannya, dengan  peningkatan kapasitas diri akan menghasilkan  nilai (value) yang baik untuk bangsa ini. Bagaimana caranya membangun budaya sehingga bisa memberikan dampak (value) yang besar? Yang pertama, perlu adanya self awareness dari kita sehingga kita menjadi pelaku perubahan itu sendiri. Karena perubahan adalah satu hal yang pasti, jika tidak bisa menyesuaikannya kita akan tergilas oleh perubahan itu sendiri. Menjadi pelaku perubahan artinya setiap individu tak cukup merasa terinspirasi dari suatu kejadian atau pembicaraan, tetapi juga harus berusaha bagaimana selanjutnya bisa menginspirasi lingkungan disekitarnya. Yang kedua, kita perlu menguatkan sikap adaptive dan passionatedalam menjalankan atau menghadapi kondisi suatu keadaan apapun. Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian dan tidak berpola ini, proses adaptasi dan pantang menyerah dari suatu keadaan ini merupakan suatu keniscayaan. Kebiasaan untuk senantiasa memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan adalah sesuatu  yang tidak bisa ditawar. Yang terakhir, perlu disadari bahwa kolaborasi sangat diperlukan saat ini. Dengan kompleksitas permasalahan yang tinggi, kita memerlukan seluas-luasnya sudut pandang. Karena kolaborasi dengan lingkungan sekitar sangat diperlukan sehingga kontribusi kita bisa maksimal untuk lingkungan. Satu faktor penting dalam kolaborasi adalah kemampuan komunikasi. Seharusnya komunikasi bisa melahirkan suatu komitmen bersama. Jika tidak bisa menjadi komitmen justru akan mengancam ataupun merusak kesempatan-kesempatan yang sudah datang. 

Hasil transformasi dari budaya menjadi suatu yang bernilai (Culture to Value), salah satunya  ditunjukkan dalam bentuk Service Excellence. Proses melengkapi sudut pandang sangatlah penting untuk menciptakan service excellence. Jangan hanya memikirkan diri sendiri, namun juga perhatikan orang lain sehingga mendapatkan manfaat yang lebih besar.

Sustainability (keberlanjutan) menjadi penting dimasa sekarang bagi  instansi termasuk dunia pendidikan karena kepuasan para pemangku kepentingan menjadi poin yang sangat penting. Untuk menggapai kepuasan seluruh pemangku kepentingan, kita harus mampu berkreativitas, berinovasi dan bertransformasi dengan baik sehingga dapat melahirkan budaya kerja yang dampaknya tak hanya untuk diri sendiri atau lingkungannya, bahkan lebih jauh adalah untuk bangsa ini. Indonesia harus menghasilkan SDM dan generasi yang unggul, maka dengan Semangat Kebangkitan Nasional di era pandemi ini akan melekat di dada dan menjadi penguat bagi seluruh elemen masyarakat. Mari bangkit dengan senantiasa berkolaborasi dan saling menginspirasi. Mari bangkit untuk membangun generasi unggul dan berkontribusi positif untuk negeri kita, Bangsa Indonesia.

 

Telah dipublikasikan di : https://yooreka.id/levelup/prof-dr-adi-wijaya-kebangkitan-nasional-melalui-pembangunan-generasi-unggul-menuju-indonesia-emas/

Metamorfosis Dunia Pendidikan di Masa Pandemi COVID-19

0
Photo: Dialog dengan orang tua mahasiswa Tel-U
 
Pandemi COVID-19, yang mengakibatkan perubahan secara tiba-tiba dalam keseharian individu dan masyarakat dalam beraktifitas, membawa perubahan yang luar biasa untuk semua bidang. Salah satu yang terdampak paling besar adalah bidang pendidikan, sehingga belajar dari rumah merupakan keniscayaan.
 
Sekitar 7,5 juta mahasiswa dan hampir 45 juta pelajar sekolah dasar dan menengah “dipaksa” melakukan pembelajaran dari rumah. Disrupsi teknologi terjadi di dunia pendidikan, di mana pembelajaran tatap muka yang dilaksanakan 100 persen di sekolah secara tiba-tiba mengalami perubahan yang sangat drastis. Tidak bisa ditampik bahwa lebih dari 50 persen pelajar dan mahasiswa berasal dari masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah — ini adalah data sebelum pandemi terjadi; data setelah pandemi mungkin bisa lebih besar dari itu. Seperti halnya prediksi para ekonom, pandemi ini berpotensi memperburuk kondisi berbagai sektor, terutama ekonomi masyarakat.
 
Pembelajaran dari rumah benar-benar dirasa berat bagi guru/dosen, para pelajar dan mahasiswa, bahkan orang tua. Semua lini masyarakat dipaksa bertransformasi dan beradaptasi pada kondisi pandemik ini. Banyak yang dapat dilakukan untuk setidaknya mengurangi dampak di bidang pendidikan, yakni melalui strategi pembelajaran jarak jauh (online). Bagi masyarakat yang mampu secara ekonomi, berpindah ke strategi pembelajaran online akan lebih mudah dilakukan meski pada kenyataannya pasti banyak upaya dan tantangan yang dihadapi baik oleh guru/dosen maupun para pelajar dan mahasiswa, bahkan orang tua mereka.
 
Yang paling terkena dampak adalah masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Belum seragamnya proses pembelajaran terkait standar maupun kualitas capaian pembelajaran yang diinginkan hingga saat ini masih menjadi problematika besar di dunia pendidikan. Perubahan mendadak sistem pembelajaran yang berubah menjadi online, selain menimbulkan tekanan baik secara fisik maupun mental bagi siswa, guru, bahkan orang tua, juga membuat sekolah sulit menentukan tolok ukur capaian pembelajaran yang sama.
 
Jika pelaku dunia pendidikan tidak bertindak dengan cepat dan tepat, maka ketidaksetaraan fasilitas pembelajaran yang meliputi konektivitas internet dan peralatan komunikasi seperti laptop atau smartphone akan mengakibatkan kesenjangan yang semakin tajam.
 
Beruntung pemerintah telah mengantisipasi hal ini melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dengan menginisiasi program Belajar dari Rumah. Program ini akan ditayangkan di TVRI mulai 13 April 2020. TVRI, yang selama ini menjadi media satu arah dalam menyampaikan informasi publik, menjadi solusi yang inovatif ketika dimanfaatkan menjadi sumber informasi dan sumber edukasi bagi dunia pendidikan, terutama mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah. Positioning TVRI bergeser di benak generasi milenial pada saat ini: di kala generasi milenial sudah mulai tidak berinteraksi dengan tayangan di TVRI, siswa sekarang kembali intens mencari sumber informasi dan menjadikan media televisi sebagai sumber belajar satu arah.
 
Namun demikian, efektivitas dari program ini tentunya tidak bisa disetarakan dengan interaksi pembelajaran langsung. Perbedaan pola pembelajaran yang biasanya on-site menjadi online, yang biasanya pembelajaran tatap muka menjadi tatap layar, memunculkan peluang baru di dunia pendidikan untuk terus dikembangkan.
 
Transformasi dan adaptasi menjadikan peranan orang tua sebagai kunci keberhasilan untuk menghadapi situasi ini. Orang tua, sebagai pintu pertama perubahan ini, harus mampu beradaptasi terlebih dahulu sehingga orang tua mampu menjadi pendamping atau mentor perubahan bagi anak-anaknya di rumah. Semua orang tua berharap menjadikan anaknya orang yang terpelajar atau terdidik dengan baik (well-educated). Kenapa demikian, karena persoalan-persoalan yang akan muncul di masa depan bisa dipastikan akan bertambah kompleks dan rumit. Seseorang yang terdidik dengan baik dicirikan dengan sudut pandang yang lengkap dan perilaku yang baik dalam menghadapi berbagai masalah.
 
Oleh karena itu, masa pandemik ini menjadi sebuah peluang untuk menyadarkan setiap orang tua bahwa beban pendidikan anak tidak bisa hanya diserahkan kepada guru/dosen semata, karena sesungguhnya proses pembelajaran merupakan proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Orang tua yang menjadi mentor dan pendamping di rumah merupakan role model perubahan sikap bagi siswa dalam berperilaku dan menghadapi permasalahan saat ini. Orang tua harus mampu belajar kembali bersama anak-anak di rumah, menanamkan pola berpikir yang positif sehingga mampu menghadapi pandemi ini sebagai sebuah polah hidup baru yang harus dibiasakan untuk dijalani. Sudah sepatutnya kesadaran semacam ini muncul dari setiap elemen pendidikan, guru/dosen, para pelajar, atau mahasiswa (baca: pembelajar), termasuk orang tua. Karena sesungguhnya, pembelajaran tidak hanya fokus pada objek yang dipelajari, tetapi setiap pendidik dan pembelajar fokus juga pada bagaimana caranya berpikir dan berperilaku terhadap yang dipelajarinya. Hal ini berarti ranah pembelajaran tidak hanya mencakup keahlian/skills, juga bukan saja terhadap ilmu/knowledge tetapi juga mencakup pola pikir/mindset dalam menghadapi suatu permasalahan. Terbentuknya pola pikir yang siap leading dalam menghadapi kompleksitas dan kerumitan yang akan muncul pada masa mendatang menjadi bekal penting bagi setiap individu. Selain itu pola pikir positif merupakan syarat cukup agar seseorang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dan juga berperilaku yang baik pula. Pola pikir positif akan memudahkan dalam implementasi setiap materi pembelajaran yang diperlukan oleh para pembelajar (pelajar dan mahasiswa). Di sinilah peranan orang tua sebagai mentor/pendamping dan juga role model sesungguhnya.
 
Nelson Mandela pernah berkata bahwa pendidikan merupakan senjata paling ampuh yang dapat digunakan untuk mengubah dunia. Sementara itu, Malcolm X juga berpendapat bahwa pendidikan merupakan paspor untuk masa depan, karenanya hari esok merupakan milik orang-orang yang mempersiapkan diri pada hari ini. Tentunya peran kita semua adalah sebagai pendidik dan pembelajar. Suatu saat, pelajar dan mahasiswa berperan sebagai pembelajar, di saat lain mereka berperan sebagai pendidik, paling tidak untuk mendidik dirinya sendiri dalam kedisiplinan dan menanamkan kesadaran untuk terus berperilaku baik. Begitu juga guru/dosen, termasuk orang tua, tidak mungkin bisa menjadi pendidik yang baik jika tidak pernah mau menjadi pembelajar yang baik. Ali Bin Abi Thalib pun mengingatkan, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”
 
Segala proses untuk menjadi pendidik maupun pembelajar yang baik tentunya menjadi tanggung jawab bersama. Harapannya, sejauh mana peran kita dalam mengemban amanah sebagai pendidik maupun pembelajar, tetap terbungkus rapi dalam ikhtiar maksimal yang dikelola penuh keihklasan dan kesabaran, terutama di masa pandemik ini. Semoga pandemi COVID-19 lekas berakhir, semua warga bangsa senantiasa sehat, dan proses kehidupan dapat berjalan normal kembali dengan menciptakan manusia-manusia baru yang memiliki pola pikir positif yang sarat solidaritas sosial.
 
 
Publikasi di :  https://kumparan.com/kumparantech/metamorfosis-dunia-pendidikan-di-masa-pandemi-covid-19-1tK7GRI8RjV/full

Istiqomah dalam mencapai tujuan

0

braille

Kira-kira lebih dari 200 tahun yang lampau, di Perancis di sebuah desa kecil disana, hiduplah sebuah keluarga sederhana di sebuah rumah batu yang mungil. Kepala keluarga yang menghidupi istri dan empat orang anaknya dengan bekerja membuat pelana kuda dan sadelnya bagi para petani di daerahnya. Anak bungsu keluarga tersebut semenjak dari kecil sudah menunjukkan bakat-bakat menonjol, seperti cerdik, banyak akal dan mempunyai rasa penasaran akan sesuatu yang terus menerus. Saat dirinya masih balita, anak keempat ini sering sekali diajak ke bengkel kerja ayahnya, dimana disana ia bermain dengan berbagai peralatan yang ada dan memperhatikan proses pembuatan pelana yang ayahnya kerjakan. Tak disangka, suatu hari… saat si bungsu sedang bermain dengan benda tajam yang biasanya digunakan ayahnya untuk melubangi bahan dari kulit, benda yang tajam itu tidak sengaja mengenai salah satu matanya. Luka tersebut kemudian menjadi infeksi dan menyebar ke mata yang lain, sehingga setahun kemudian ia pun menjadi seorang tuna netra.

Ayah dan ibunya sangat khawatir dengan masa depannya,  karena kebutaan tersebut. Namun dengan kemampuannya dan daya ingat yang luar biasa, anak tersebut berhasil menjadi juara kelas. Di usia 10 tahun, anak tersebut berhasil meraih beasiswa dari Royal Institution For Blind Youth di Paris, yang merupakan satu-satunya sekolah tuna netra yang ada saat itu di dunia. Buku-buku di sekolah tersebut dicetak dengan menggunakan sistem emboss, yaitu cetak menonjol sehingga bisa diraba oleh tangan.  Di sekolah ini ia berpikir banyak mengenai sistem emboss yang ada, dia berpikir bagaimana mengembangkan sistem itu karena pada kenyataannya sistem emboss itu masih memiliki kelemahan karena tidak memungkinkan untuk para tuna netra menulis tulisannya sendiri dengan sistem emboss. Artinya komunkasi sistem embos hanya satu arah, yakni membaca.

Suatu hari ia datang ke sebuah ceramah dari seorang yang bekerja di kemiliteran yang mengembangkan sistem sonografi, yaitu metode pertukaran kode menggunakan sistem emboss. Akhirnya, ia kemudian mengembangkan sistem sonografi ini menjadi sistem yang dapat berguna dan lebih bermanfaat untuk kaum tuna netra. Setelah melalui serangkaian ujicoba, akhirnya saat ia masih berumur 15 tahun berhasil membuat sebuah sistem yang memakai enam titik dan disesuaikan untuk ke dua puluh enam alfabet. Bahkan ia merancang kode untuk not musik dan matematika. Sistem rancangannya tersebut ini juga memungkinkan teman-teman tuna netranya untuk menulis dengan membuat lubang-lubang di kertas. Pada usianya yang ke-20 tahun, rancangan tersebut dikenalkan ke publik. Sampai akhirnya, ia melakukan demonstrasi di Paris Exposition of Industry, dan karyanya dipuji oleh pemimpin Perancis pada saat itu yaitu Raja Louis Phillippe. Remaja buta tersebut tidak lain adalah Louis Braille, yang hingga saat ini karyanya digunakan dan bermanfaat untuk puluhan juta tuna netra di dunia.

Rangkaian cerita itu, memberikan inspirasi bagaimana kerja keras dna kerja cerdas  seorang anak remaja tuna netra yang terus berusaha sehingga karyanya bermanfaat sesama manusia.  Kerja keras dan kerja cerdas ditunjukkan olehnya untuk mencapai impiannya. Kerja keras yang lain ditunjukkan oleh Ibnu Sina serang tokoh bidang kedokteran. Ibnu Sina dengan kekuatan logikanya dikenal pula sebagai filosof tak tertandingi. Ibnu Sina pemempelajari pandangan-pandangan Aristoteles di bidang filsafat. Ketika menceritakan pengalamannya mempelajari pemikiran Aristoteles, Ibnu Sina mengaku bahwa beliau membaca kitab Metafisika karya Aristoteles sebanyak 40 kali. Namun demikian ia hanya menghafal kontennya tanpa memahami maksudnya. Beliau menguasai maksud dari kitab itu secara sempurna setelah membaca syarah atau penjelasan ‘metafisika Aristoteles’ yang ditulis oleh Farabi, filosof muslim sebelumnya.

Begitu pun kita, berkerja keras untuk mencapai impian. Kita senantiasa mengeluarkan segenap kemampuan untuk meraih impian tersebut. Saat kita sedang berpuasa ramadhan, impian kita adalah menjadi orang yang bertaqwa (Seperti amanat Al-Baqarah 183).  Saat saya masih duduk di bangku sekolah, saya menyangka bahwa taqwa adalah output  dari proses puasa ramadahan yang kita jalani. Namun seiring berjalannya waktu, saya memahami bahwa puasa adalah proses menuju taqwa. Bagaimana kita yakin dengan derajat taqwa yang menjadi tujuan kita meraihnya dengan sempurna, sementara puasa yang kita jalankan… penilaiannya hanya Alloh yang tahu.

Sesungguhnya puasa adalah memerangi hawa nafsu. Karena hawa nafsu yang tidak terkendali dan akan merusak segala aspek ibadah kita. Terkadang, hakikat kita bekerja keras untuk mencapai impian (taqwa), tapi oleh hawa nafsu.. orientasi itu terkadang berbelok ke arah cinta dunia (tidak sampai tujuan akhir). Abu Bakar Ash-Shiddiq RA pernah mengungkapkan nasihat untuk kita semua, agar tidak terperosok dalam kegelapan yang bernama cinta dunia (hubb al-dunya). Ini didasari oleh ungkapan Rasululloh SAW yang diriwayatkan Baihaqi, ”Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.” Dunia hanyalah hiasan sementara yang bisa menjerumuskan jika kita salah orientasi.  Alloh SWT mengingatkan kita dalam Q.S Al Kahfi : 46, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” Selepas ramadhan, derajat ketaqwaan yang menjadi tujuan dalam berpuasa, semoga tercapai secara paripurna. Salah satu nilai tertinggi ibadah puasa ialah pembebasan manusia dari ketergantungan terhadap dunia materi (Abdul Munir Mulkan).

Sesungguhnya, hanya Alloh yang mampu mengukur derajat taqwa seseorang. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13). Namun demikian, parameter tersebut bisa dilihat dari bagaimana orientasi kita terhadap dunia. Diantara kita (biasanya) bersepakat bahwa kita tidak cinta dunia. Sayangnya, itu terjadi hanya dalam kondisi normal. Bagaimana saat kondisi tertekan atau kekhawatiran sedang melanda, kita bisa mengukur sendiri… 🙂 Seberapa besar kecintaan kita pada dunia. Sesungguhnya, dunia bukanlah tujuan. Dunia ini hanyalah perantara untuk mencapai akhirat yang lebih baik. Sayyidina Ali RA pernah mengungkapkan: “Janganlah kalian menuntut sesuatu dari dunia yang lebih besar dari pada apa yang bisa menyampaikanmu ke akhirat.”  Jangan biarkan dunia merasuki hati kita, biarkanlah ia hanya dalam genggaman saja. Dan ini hanya bisa dicapai dengan kerja keras dan kerja cerdas kita semua (tidak dengan sendirinya) dan istiqomah dalam mencapai tujuan.

Semoga dengan berpuasa, kita menjadi orang yang berhasil menguasai dunia, BUKAN yang dikuasai dunia… sehingga kita termasuk orang yang bertaqwa, Aamiin YRA

 

Image’s cited from : http://brailleministries.org/

*Sebagaian besar materi ini telah disampaikan dalam acara kultum ramadhan di Masjid Syamsul Ulum, Universitas Telkom.

Menuju taqwa dengan berpuasa

0

puasa

Suatu keniscayaan bagi sebagai setiap muslim adalah memahami dan mengamalkan Islam Secara Kaffah. Salah satunya adalah terkait dengan perintah Alloh untuk berpuasa, yakni “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183). Para alim ulama senantiasa memberikan penjelasan dengan rinci terkait hal ini, terutama keterkaitan antar kata kunci dalam ayat tersebut, yaitu “iman”, “puasa”,  dan “taqwa”.  Saya sepakat bahwa, iman merupakan landasan bagi seorang muslim sehingga mau dan mampu berpuasa. Selamjutnya, puasa merupakan proses metamorfosis seorang muslim untuk meningkatkan derajatnya sehingga menjadi orang yang bertaqwa.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa menetapkan tujuan dan berusaha untuk mencapai apa yang telah ditetapkan sebagai tujuan. Karenanya, saya lebih tertarik untuk mendeskripsikan terkait dengan kata kunci “taqwa”, yang telah ditetapkan sebagai outcome dari proses kita berpuasa.  Menurut saya, taqwa tak hanya sekedar capaian.. tapi itu merupakan suatu habit yang perlu terus di pupuk sehingga tetap terjaga.  Secara bahasa, taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara, yakni menjaga diri agar selamat dunia dan akhirat. Selain itu, kata waqa juga memiliki makna melindungi sesuatu, yakni melindunginya dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan.

Tentunya, cara kita memelihara diri bisa dilakukan dengan mengikuti segala perintah Alloh dan menjauhi segala larangan Alloh serta senantiasa menerima dengan ikhlas atas hukum dan ketetapan Allah. Syayidina Ali bin Abi Thalib radliyallah ‘anhu berkata, “takwa adalah al Khaufu minal Jalil (takut kepada Allah yang Mahaagung), al ‘Amal bil Tanziili (mengamalkan al Qur’an dan al Sunnah), al Ridla bil Qalil (ridla atas pembagian rizki yang sedikit), dan al isti’dad liyaum al Rahiil (mempersiapkan diri untuk perjalanan di akhriat).”

Seorang sahabat Rasulullah SAW, Ubay bin Ka’ab pernah memberikan gambaran yang jelas tentang hakikat taqwa, seperti diungkapkan dalam ilustrasi berikut:

taqwa

Syekh Abdul Qadir pernah mengungkapkan suatu  nasihat : ”Jadilah kamu, bila bersama Allah tidak berhubungan dengan makhluk dan bila bersama dengan makhluk tidak bersama nafsu. Siapa saja yang tidak sedemikian rupa, maka tentu ia akan selalu diliputi syaitan dan segala urusannya melampaui batas.” Lebih jauh Ibnu Atha ilah pernah mengungkapkan bahwa hawa nafsu memiliki kecenderungan pada hal yang kurang baik. Beliau mengungkapkan suatu nasihat, yakni ” Jika dihadapkan kepadamu dua perkara yang tidak jelas, pilihhlah yang paling berat menurut hawa nafsu. Karena tidaklah sesuatu berat bagi hawa nafsu, melainkan itu adalah baik bagi kita.” Sementara itu, Imam Qurthubi mengutip pendapat Abu Yazid al-Bustami, bahwa orang yang bertakwa itu adalah: “Orang yang apabila berkata, berkata karena Allah, dan apabila berbuat, berbuat dan beramal karena Allah.”

Salah satu nasihat Abu Bakar ash shiddiq adalah ada kegelapan yang bisa merusak derajat ketaqwaan kita, yakni cinta dunia (hubb al-dunya). Rasulullah pun bersabda, ”Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.” (HR Baihaqi). Semoga kita bisa menjaga hati dari kerikatan dunia, sehingga derajat taqwa sebagai tujuan akhir dapat tercapai secara sempurna.

Dalam menjaga ketercapaian tujuan, ada baiknya kita mengikuti tujuh kebiasaan Rasulullah selama bulan Ramadhan:

  1. mengerjakan amalan fardhu dengan sempurna.
  2. mengerjakan amalan sunah.
  3. membayar zakat dan memperbanyak sedekah.
  4. memperbanyak membaca Al-Qur’an.
  5. memperbanyak doa dan dzikir.
  6. memperbanyak membaca kalimat Thayyibah, Istighfar, dan memohon kepada Allah untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka.
  7. i’tikaf.

Selamat menunaikan ibadah puasa romadhon, mohon maaf lahir dan bathin.

Semoga Alloh melimpahkan kasih sayang dan ampunan bagi kita semua, dan mewujudkan cita-cita kita sebagai insan yang bertaqwa.

Barokallohu fii kum, aamiin YRA

 

Image’s cited from : http://waroengsehat.com/kenapa-puasa/

Ikhtiar dan Ikhlas dalam segala Asa

0

pohon

Mantan presiden India, Dr. APJ Abdul Kalam, pernah mengungkapkan, “You have to dream before your dreams can come true”. Saya sependapat dengan beliau. Namum demikian, perlu diingat bahwa mimpi setiap orang bisa bermuara pada dua kemungkinan, yakni harapan atau angan-angan.  Mimpi seseorang akan berubah jadi sebuah harapan, saat orang tersebut melakukan ikhtiar untuk mewujudkannya. Sebaliknya, jika orang tersebut tidak melakukan  apapun, maka mimpi itu hanya akan menjadi angan-angan. Dalam keterbatasan kita sebagai makhluk, terkadang kita memandang mimpi sebagai asa terbentang dengan mengesampingkan hal lain. Tatkala mimpi itu sendiri sebagai objek bergerak, bukan tak mungkin panah harapan yang sudah didesain dengan ikhtiar maksimal pun  bisa meleset.

Dalam perjalanan waktu, ketidakpastian dan kerentanan akan perubahan merupakan keniscayaan. Tentunya kesadaran itu mutlak diperlukan, capaian dari suatu harapan belum tentu bisa terwujud seperti yang dibayangkan sang pemimpi. Segalanya sangat bergantung pada kehendak-Nya. Karena itu, sudah sepatutnya kita meletakan segala usaha  dalam mewujudkan mimpi itu adalah sebagai bagian dalam ibadah kita kepada-Nya. Bukan semata-mata berfokus bahwa ikhtiar yang dilakukan adalah untuk pencapaian segala harapan. Setiap saat, kita perlu mempersiapkan segalanya dengan keluasan hati… Terkadang hati tak tenang saat asa atau harapan tak tercapai. Semakin besar pengharapan pada suatu asa, semakin besar pula  usaha yang perlu disiapkan untuk meredam kekecewaan.

Akar tidak terlihat, tapi tanpa lelah ia senantiasa menyerap sari makanan yang berguna bagi seluruh bagian tumbuhan. Daun berpanas-panasan, namun tetap bersemangat mengolah makanan (baca :fotosintesis) yang akan disebarkan keseluruh bagian tumbuhan.  Batang pohon berdiri dengan tegap, tanpa mengeluh terus menopang dedaunan dan yang lainnya tanpa iri bahwa ia hanya kebagian sedikit dari hasil olahan sang daun. Ketiganya pun  tidak pernah merasa iri ataupun rugi saat bunga atau sari patinya (baca : madu) maupun  buahnya diambil  dari tumbuhan itu.  Begitupun, setiap manusia di dunia ini memiliki peran masing-masing. Besar atau kecil peran itu hanya dirinya dan Yang Maha Tahu yang berhak menilainya. Itulah hakikat ikhlas dalam memberi peran sebagai makhluk-Nya Jika ikhlas telah lenyap maka peran kita berorientasi bukan karena-Nya.

Perlu disadari… Kewajiban kita hanya memaksimalkan ikhtiar dan senantiasa melakukan yang terbaik, selanjutnya sandarkan segala harapan dalam bentuk keikhlasan  kepada-Nya. Karena itu, tanamlah  sejuta kebaikan untuk sesama dan berikan pupuk keikhlasan padanya, maka Sang pemberi berkah  akan memberikan yang terbaik untuk kita semua. Semoga kita termasuk orang yang senantiasa ikhlas dalam beramal kebajikan. Barokalloh fiikum,  aamiin YRA

Ikhlas

4

Ibu

Menurut KBBI, ikhlas adalah bersih hati, tulus hati. Secara mudahnya ikhlas berarti mengerjakan amal ibadah dengan niat hanya kepada Allah untuk memperoleh ridha-Nya.
Yang perlu mendapat penekanan, adalah ikhlas merupakan wujud kepasrahan dan ketulusan, sehingga ikhlas merupakan salah satu hal yang bisa menyebabkan suatu amalan ibadah kita diterima Allah.

Ibu saya memiliki kebiasaan memberikan sesuatu hadiah pada orang lain, utamanya lagi pada orang yang telah memberikan bantuan. Saat melihat kebiasaan ibu, saya jadi teringat pelajaran ikhlas di sekolah. Lantas, saya bertanya pada ibu, “saat ada sesorang membantu, selanjutnya ibu memberikan sesuatu untuknya. Apakah itu tidak merusak pahala ikhlas yang bersangkutan.”

Dengan di awali tatapan khasnya,  beliau menyampaikan hal berikut, “saat seorang berbuat baik, sesungguhnya segala pahala yg diperolehnya sangat bergantung pada niat yang bersangkutan, dan Alloh tahu segalanya.” Beliau melanjutkan, “saat kita menghadiahkan sesuatu padanya, bukan karena ingin merusak pahalanya… sesungguhnya ibu mengharapkan agar Alloh mengkaruniakan taufik utk keturunan ibu shg bisa menduplikasi segala amal kebaikan yg bersangkutan”.

Semoga kita termasuk orang yang senantiasa ikhlas dalam beramal kebajikan.

Barokalloh fiikum, aamiin YRA

Image’s cited from : https://www.flickr.com/photos/fenuparee/3096387890

Jendela Rumah Sakit

1

Selamat hari jumat :), barakallohu fikum

Berikut adalah repost, namun menurut saya sangat bermanfaat dalam hal saling mengingatkan dalam kebenaran.

 

jendela-rumah-sakitjendela-rumah-sakit

Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunua yang ada di kamar itu.

Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.

Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.

Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama saru jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

“Di luar jendela, tampak sebuah teman dengan kolam yang indah, itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah.”

Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemangdangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah.

Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas.Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.

Begitulah seterusnya, dari hari ke hari, satu minggu pun berlalu.

Suatu pagi,perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawar lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti semua kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.

Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan di dunia luat melalui jendela itu. betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG !!!

Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun.

“Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup” Kata perawat itu.

Renungan :
Kita percaya, setiap kata selalu bermakna bagi setiap orang yang mendengarnya. Setiap kata, adalah layaknya pemicu yang mampu menelisik sisi terdalam hati manusia, dan membuat kita melakukan sesuatu. Kata-kata, akan selalu memacu dan memicu kita untuk berpikir, dan bertindak.

Kita percaya, dalam kata-kata, tersimpan kekuatan yang sangat kuat. dan kita telah sama-sama melihatnya dalam cerita tadi. Kekuatan kata-kata, akan selalu hadir pada kita yang percaya.

Kita percaya, kata-kata yang santun, sopan, penuh dengan motivasi, bernilai dukungan, memberikan kontribusi positif dalam seetiap langkah manusia. Ucapan-ucapan yang bersemangat, tutur kata kata yang membangun, selalu menghadirkan sisi terbaik dalam hidup kita. Ada hal-hal yang mempesona saat kita mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain. menyampaikan keburukan sebanding dengan setengah kemuraman, namun. Menyampaikan kebahagiaan akan melipatgandakan kebahagiaan itu sendiri.

Repost from : http://iphincow.com/2010/02/01/jendela-rumah-sakit/

The meaning of life

0

The Meaning of life (Courtesy Youtube)

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=wjiKqNLa5OA&w=560&h=315]

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mukminun:115).

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya“. (QS Al Baqarah : 45-46).

 

What are you looking for?

Apa yang kau cari?

Sesungguhnya, kita hanya hidup sekali… Manfaatkanlah waktu kita sebaik mungkin.

Semoga kita termasuk orang yang senantiasa  mampu menjalani hidup sesuai manual book Sang Pencipta (Al-Qur’an), aamiin YRA

Danau impian

2

danau2

Dalam suatu  perjalanan menuju suatu danau nan indah di tengah hutan, untuk mencapainya, setiap orang bisa melalui jalur manapun. Untuk tujuan yang sama, kita bisa memilih jalur yang disukai. Karena kita belum pernah mengunjungi danau tersebut sebelumnya, berhati-hati dalam  berperjalanan merupakan suatu keniscayaan. Dalam perjalanan panjang itu, mungkin kita hanya melewati jalanan datar, tapi penuh onak dan duri sepanjang jalan yang dilalui. Sebagian orang juga ada yang memilih jalan yang lapang diawal, ternyata selanjutnya ketemu arus yang sangat deras di sungai berbatu tajam. Mungkin juga halangan itu datang diawal perjalanan, kita harus melewati tebing curam atau jalanan terjal yang membahayakan jiwa. Namun selanjutnya, kita temui padang datar yang tidak terlalu memberatkan dalam perjalanan sehingga kita bisa mencapai danau impian itu.

 

Begitulah perjalanan hidup kita didunia. Dalam mengarungi flowchart kehidupan, kita bisa memilih jalur mana yang kita inginkan. Namun pilihan itu hanya sebuah harapan, karena sesungguhnya ketentuan Alloh di atas segalanya. Janganlah berprasangka buruk atas segala yang terjadi saat ini, karena itu mungkin analogi dari awal perjalanan yang harus melwati jalanan terjal dan tebing yang curam. Mungkin dirasakan berat, namun bisa jadi bahwa perjalan berikutnya akan lebih ringan. Wallohu’alam. Tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Disitulah tempatnya kita senantiasa bergantung dan berharap kepada-Nya. Saat Alloh memberikan suatu ketetapan, yakinlah bahwa ini adalah yang terbaik dari-Nya. Yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut Alloh, begitupun sebaliknya, yang buruk terjadi menurut kita, bisa jadi dibalik aitu ada hikmah sehingga Alloh akan memberikan yang terbaik setelahnya.

 

Seyogyanya kita bisa menikmati segala apa yang kita lalui dan apa yang telah menjadi ketetapan-Nya.

Jelas bahwa kita bergantung kepada-Nya,

Jelas bahwa kita tidak bisa apapun tanpa-Nya

Hanya kepada-Nya kita berharap

Semoga kita senantiasa diberikan yang terbaik dari-Nya

Tak terbayang jika kita hidup tanpa limpahan rahmat-Nya

La hawla wala quwwata illa billah…

So I’m gonna love You… like I’m gonna lose You

Hanya karena cinta-Nya sehingga kita masih bisa menikmati segala apa yang terjadi.

Semoga kita bisa mencapai danau impian (syurga) yang kita dambakan, aamiin YRA

 

*danau hanya ilustrasi 🙂

Image’s cited from : http://images.huffingtonpost.com/2014-06-09-LakeMathesonTerryBamforth.jpg

Jumat Berkah

0
Nasihat Rasul dan Sahabat

 

Dari Abu Hurairah, Rasululloh SAW bersabda: “Barang siapa yang melepaskan kesulitan seorang mu’min dari suatu kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitannya pada hari kiamat. Dan barang siapa yang memudahkan urusan orang lain, niscaya akan Allah memudahkan baginya urusan di dunia dan akhirat….”
Semoga kita termasuk orang yang senantiasa mampu berkontribusi positif dan memberikan manfaat untuk sesama, aamiin YRA

 

Dari Abu Bakar ash Shiddiq r.a., “Tidak ada manfaat dari uang jika tidak dibelanjakan di jalan Allah. Tidak ada kebaikan dalam diri seseorang jika kebodohannya mengalahkan kesabarannya. Dan jika seseorang tertarik dengan pesona dunianya yang rendah, Allah swt tidak akan ridho kepadanya selama dia masih menyimpan hal itu dalam hatinya.”

Kini… hedonisme melanda, kecintaan pada pesona dunia semakin tidak terbendung
Semoga kita termasuk orang yang senantiasa mendapat ridho Alloh, aamiin YRA.

 

Dari Umar bin Khattab r.a., “Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya,” (Ihya’ Ulumuddin 4/203)
Kini… orientasi kemuliaan terkadang bergeser karena harta, kedudukan, dan sejenisnya.
Semoga kita termasuk orang yang senantiasa dimuliakan Allah, aamin YRA

 

Dari Utsman bin Affan r.a., “Segala sesuatu pasti memiliki penyakit, nikmat pun juga punya penyakit. Penyakit agama ini (Islam) adalah orang-orang yang sering menyebar fitnah. Mereka selalu memperlihatkan apa yang kalian senangi dan menyembunyikan apa yang kalian benci. Mereka laksana burung unta yang selalu mengikuti orang yang pertama kali teriak.”

Semoga kita termasuk orang yang senantiasa terhindar dari fitnah, aamiin YRA

 

Dari Ali bin Abi Thalib r.a., “Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutan yang membuat kita sulit. Karena itu jangan pernah mencoba untuk menyerah dan jangan pernah menyerah untuk mencoba dalam amanah, keikhlasan dan kejujuran. Maka jangan katakan pada Allah aku punya masalah, tetapi katakan pada masalah AKU PUNYA ALLAH Yang Maha Segalanya”.
Kini… ketakutan akan kehilangan dunia semakin mengelora, hubbud dunya dan melupakan kematian dan yaumul hisab semakin kentara

Semoga kita termasuk orang yang senantiasa terhindar dari semua rasa takut kecuali karena Alloh, aamiin YRA

Go to Top