puasa

Suatu keniscayaan bagi sebagai setiap muslim adalah memahami dan mengamalkan Islam Secara Kaffah. Salah satunya adalah terkait dengan perintah Alloh untuk berpuasa, yakni “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183). Para alim ulama senantiasa memberikan penjelasan dengan rinci terkait hal ini, terutama keterkaitan antar kata kunci dalam ayat tersebut, yaitu “iman”, “puasa”,  dan “taqwa”.  Saya sepakat bahwa, iman merupakan landasan bagi seorang muslim sehingga mau dan mampu berpuasa. Selamjutnya, puasa merupakan proses metamorfosis seorang muslim untuk meningkatkan derajatnya sehingga menjadi orang yang bertaqwa.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa menetapkan tujuan dan berusaha untuk mencapai apa yang telah ditetapkan sebagai tujuan. Karenanya, saya lebih tertarik untuk mendeskripsikan terkait dengan kata kunci “taqwa”, yang telah ditetapkan sebagai outcome dari proses kita berpuasa.  Menurut saya, taqwa tak hanya sekedar capaian.. tapi itu merupakan suatu habit yang perlu terus di pupuk sehingga tetap terjaga.  Secara bahasa, taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara, yakni menjaga diri agar selamat dunia dan akhirat. Selain itu, kata waqa juga memiliki makna melindungi sesuatu, yakni melindunginya dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan.

Tentunya, cara kita memelihara diri bisa dilakukan dengan mengikuti segala perintah Alloh dan menjauhi segala larangan Alloh serta senantiasa menerima dengan ikhlas atas hukum dan ketetapan Allah. Syayidina Ali bin Abi Thalib radliyallah ‘anhu berkata, “takwa adalah al Khaufu minal Jalil (takut kepada Allah yang Mahaagung), al ‘Amal bil Tanziili (mengamalkan al Qur’an dan al Sunnah), al Ridla bil Qalil (ridla atas pembagian rizki yang sedikit), dan al isti’dad liyaum al Rahiil (mempersiapkan diri untuk perjalanan di akhriat).”

Seorang sahabat Rasulullah SAW, Ubay bin Ka’ab pernah memberikan gambaran yang jelas tentang hakikat taqwa, seperti diungkapkan dalam ilustrasi berikut:

taqwa

Syekh Abdul Qadir pernah mengungkapkan suatu  nasihat : ”Jadilah kamu, bila bersama Allah tidak berhubungan dengan makhluk dan bila bersama dengan makhluk tidak bersama nafsu. Siapa saja yang tidak sedemikian rupa, maka tentu ia akan selalu diliputi syaitan dan segala urusannya melampaui batas.” Lebih jauh Ibnu Atha ilah pernah mengungkapkan bahwa hawa nafsu memiliki kecenderungan pada hal yang kurang baik. Beliau mengungkapkan suatu nasihat, yakni ” Jika dihadapkan kepadamu dua perkara yang tidak jelas, pilihhlah yang paling berat menurut hawa nafsu. Karena tidaklah sesuatu berat bagi hawa nafsu, melainkan itu adalah baik bagi kita.” Sementara itu, Imam Qurthubi mengutip pendapat Abu Yazid al-Bustami, bahwa orang yang bertakwa itu adalah: “Orang yang apabila berkata, berkata karena Allah, dan apabila berbuat, berbuat dan beramal karena Allah.”

Salah satu nasihat Abu Bakar ash shiddiq adalah ada kegelapan yang bisa merusak derajat ketaqwaan kita, yakni cinta dunia (hubb al-dunya). Rasulullah pun bersabda, ”Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.” (HR Baihaqi). Semoga kita bisa menjaga hati dari kerikatan dunia, sehingga derajat taqwa sebagai tujuan akhir dapat tercapai secara sempurna.

Dalam menjaga ketercapaian tujuan, ada baiknya kita mengikuti tujuh kebiasaan Rasulullah selama bulan Ramadhan:

  1. mengerjakan amalan fardhu dengan sempurna.
  2. mengerjakan amalan sunah.
  3. membayar zakat dan memperbanyak sedekah.
  4. memperbanyak membaca Al-Qur’an.
  5. memperbanyak doa dan dzikir.
  6. memperbanyak membaca kalimat Thayyibah, Istighfar, dan memohon kepada Allah untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka.
  7. i’tikaf.

Selamat menunaikan ibadah puasa romadhon, mohon maaf lahir dan bathin.

Semoga Alloh melimpahkan kasih sayang dan ampunan bagi kita semua, dan mewujudkan cita-cita kita sebagai insan yang bertaqwa.

Barokallohu fii kum, aamiin YRA

 

Image’s cited from : http://waroengsehat.com/kenapa-puasa/