logo SoC

Bernostalgia dengan ungkapan Prof. Nuh di Kompas, Selasa, 23 September 2014, “Ke depan hampir bisa dipastikan persoalan akan bertambah kompleks dan rumit, bagaimana cara kita mengatasi kompleksitas dan kerumitan tersebut? solusinya menurut beliau adalah  kemampuan berpikir dan masyarakat yang  well educated (ter­didik)”. Dua solusi tersebut bisa dicapai dengan sistem pendidikan yang baik.  Pendidikan, menurut KBBI,  merupakan  proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Di Telkom University,  sudah sepatutnya setiap dosen dan mahasiswa  fokus juga pada bagaimana caranya  berpikir, tak hanya fokus pada objek  yang harus dipikirkan. Artinya ranahnya adalah konseptual tetap harus diajarkan sehingga diharapkan akan terbentuk pola pikir yang siap leading dalam menghadapai kompleksitas dan kerumitan yang akan muncul pada masa mendatang. Ini menjadi penting, karena kemampuan bisa berpikir dengan baik merupakan syarat cukup agar seseorang memiliki skill communication yang baik. Pola pikir yang baik pula akan memudahkan dalam impelementasi PRIME (Profesionalism, Recognition of achievement, Integrity, Mutual respect, Entrepreneurship) untuk seluruh unsur civitas akademik.

Nelson Mandela pernah mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan senjata paling ampuh yang dapat digunakan untuk mengubah dunia. Sementara itu, Malcolm X berpendapat bahwa pendidikan merupakan paspor untuk masa depan, karenanya hari esok merupakan  milik orang-orang yang mempersiapkan diri pada hari ini. Dimanakah peran kita? Tentunya peran kita adalah sebagai pendidik dan pembelajar. Suatu saat, mahasiswa sebagai pembelajar, disaat lain mereka pun berperan sebagai pendidik, paling tidak untuk mendidik dirinya sendiri. Begitupun dosen, tidak mungkin bisa menjadi pendidik yang baik jika tidak pernah mau menjadi pembelajar yang baik yang senantiasa memperbaiki diri.  Perlu diingat kembali bahwa tujuan proses belajar adalah memaksimalkan potensi yang dimiliki seseorang orang. Oleh karena itu,  sudah sepatutnya setiap dari kita memahami bahwa bealajar itu tak hanya fokus pada objek  yang harus dipikirkan, tapi kita harus senantiasa belajar juga bagaimana caranya  berpikir. Menteri Anies Baswedan pernah  mengungkapkan bahwa kalau kita ingin maju menjadi bangsa yang besar, jangan hanya fokus pada sumber daya alam yang kita miliki. Tetapi fokuslah pada sumber daya manusia Indonesia yang melimpah. Kunci memajukan bangsa Indonesia adalah pada manusianya. Karenanya,  pendidikan yang perlu dikedepankan adalah untuk membangun integritas, menghasilkan orang-orang jujur dan berkarakter, sehingga jika diberi amanah maka mewujudkan amanah itu dalam bentuk kebahagiaan, kemajuan dan kesejahteraan bagi semua.
Ingatkah kita, pada kisah pendakian Mount Everest (1953), saat tinggal satu langkah mencapai puncak, Tenzing Norgay (sang pemandu) mempersilahkan Sir Edmund Hillary, untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia itu. Tentunya dalam banyak target pencapaian, seyogyanya kita pandai menempatkan diri. Terkadang, kita berperan sebagai sosok Tenzing yang tulus dan tetap fokus pada tugas pokok sebagai pemandu. Dilain kesempatan, kita juga perlu mengambil peran sebagai sir Edmun., sehingga menjadi sosok yang menjadi panutan dalam kegigihan berjuang. Dimanapun kita berperan, the important thing is give your all best for every effort, sehingga keberadaan kita bisa dirasakan oleh lingkungan sekitar. Segala  proses untuk menjadi pendidik maupun pembelajar yang baik, tentunya cukup  kita dan Alloh yang tahu (ikhlas). Harapannya, sejauh mana peran kita dalam mengemban amanah sebagai pendidik dan pembelajar, tetap terbungkus rapih dalam ikhtiar maksimal yang dikelola penuh keikhlasan dan kesabaran. Analogi yang perlu diresapi adalah sebagai berikut. Dalam  menyerap sari makanan yang berguna bagi seluruh bagian tumbuhan, akar pun tidak terlihat namun senantiasa dalam upaya maksimal untuk perkembangan tumbuhan itu. Begitupun, batu pondasi dan bata merah yang tertanam dan tidak nampak, namun yang pasti pasti ia mengokohkan kerangka bangunan.  Semoga segala usaha para pendidik dan pembelajar tetap istiqomah dalam ridhonya, sehingga peranan dalam kemajuan bangsa menjadi bekal kelak di yaummil hisab.