Information

Bantuan Seminar Luar Negeri dari Kemenristekdikti

2

bsln

Dalam rangka mendiseminasikan hasil penelitian dan diperolehnya masukan untuk penyempurnaan artikel ilmiah sehingga dapat diterbitkan di berkala ilmiah bereputasi internasional, Kemenristekdikti kembali memberikan bantuan bagi kita para dosen/peneliti Indonesia  untuk aktif dalam forum temu ilmiah tingkat internasional. Hibah bantuan seminar luar negeri tahun 2016 telah dibuka, silahkan download panduannya di, PanduanBSLN 2016.pdf

Have a nice conference ūüôā

 

Topik TA 1 untuk Prodi S1 IF dan S1 IK, School of Computing

0

emak aku ingin wisuda

Berikut disampaikan daftar  topik TA untuk kelas TA-ADW :

  1. PCOS Classification (based on medical image – USG)
  2. Document Classification based on gender/author/topic
  3. Brand/Product Sentiment Classification (Telkom Products)
  4. Data forecasting (weather and planting calendar forecasting)
  5. Gene Expression Classification (micro array data for cancer detection)
  6. Speech (qur’anic) processing (hijaiyah with harakat and qur’anic¬†words)
  7. Imagenet Classification
  8. EEG signal classification 
  9. Churn Prediction
  10. Clustering and Classification system based on machine learning, soft computing,  Probability Graphical Model, or Graph Algorithm.

Topik diatas berlaku untuk prodi S1 IF dan prodi S1 IK, Tim dosenyang tergabung untuk mengelola kelas TA tersebut adalah :

  1. Adiwijaya
  2. Jondri
  3. Warih Maharani
  4. Fhira Nhita
  5. Doddy Qori Utama
  6. Untari Wisesty
  7. Kemas Muslim Lakshmana
  8. Said Al Faraby
  9. Danang Triantoro
  10. Annisa Aditsania
  11. M. Syahrul Mubarok

Setiap topik (problem) tersebut akan dikerjakan oleh beberapa orang mahasiswa tentunya dengan metode/pendekatan  yang berbeda.

Insya Alloh  kami menyediakan data untuk semua topik diatas,  sehingga insya Alloh dapat terkerjakan dalam waktu sekitar enam bulan.

Jika ada yang berminat mengambil kelas TA 1 ini, diharapkan segera untuk mengisi form registrasi bayangan 

https://docs.google.com/forms/d/1PaNbsqX-IrztaAEM0l3pq5TrKK7c8qAjVlBUuJP4zM4/viewform

Jika ada hal yang perlu didiskusikan, silahkan kontak ke :

email kang.adiwijaya@gmail.com  atau whatsapp 082217633999

Terima kasih.

 

Image’s coted from : http://jancok.com/klik/1074/

Happy birthday

0

Screen Shot 2015-08-04 at 9.50.37 AM

Ucapan “Selamat ulang tahun” sangat lekat dengan lingkungan kita. Tak hanya dikalangan perorangan, tingkat institusi pun senantiasa mengucapkan dan merayakan hari ulang tahun tersebut. Dikalangan akademik, kita sudah sering mendengarnya, yakni dies natalis. Dies Natalis¬† merupakan suatu peringatan atas hari lahir yang di dalam sejumlah besar budaya dianggap sebagai peristiwa penting yang menandai awal perjalanan kehidupan. Dalam bulan ini pun, sedang berlangsung dies natalis Universitas Telkom ke-2.¬†Dibulan ini pun, seluruh rakyat indonesia bersuka cita merayakan hari kemerdekaan, hari lahirnya bangsa indonesia yang ke -70, 17 agustus.¬†Sebagian besar ulama telah memberikan fatwa terkait¬†dengan¬†¬†perayaan hari ulang tahun.¬†Namun demikian, saya tidak akan membahas hukum atau fatwa terkait ulang tahun atau milad. Saya lebih tertarik dengan bagaimana kita memaknai atau merenungi peringatan hari lahir atau milad atau pun dies natalis.

 

Bertambahnya usia adalah suatu keniscayaan, namun bertambah dewasa belum tentu.¬†Ungkapan itu seringkali kita¬†ungkapkan atau pun kita ¬†dengar. Salah satu ungkapan Rasulullah yang diriwayatkan Hakim r.a. “‚ÄúBarang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung.¬†Barang siapa yang hari ini sama dengan¬†hari kemarin dialah tergolong orang yang¬†merugi.¬†Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk¬†dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka‚ÄĚ. Sungguh merupakan pukulan telak bagi kita yang terlalu santai dalam menalani kehidupan ini. Tentunya tidak santai bukan berarti terburu-buru. Rasulullah SAW bersabda: ‚ÄúSesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa.‚ÄĚ (HR. Bukhari). Dalam hal ini, santai diartikan tidak peduli¬†terhadap waktu dan ¬†tidak serius (tidak memberikan yang terbaik) dalam setiap amalan.

 

Kembali ke topik milad :), seiring¬†pertambahan usia seyogyanya kita senantiasa menjadi lebih baik. ¬†Menurut saya, pertambahan usia juga linier (sebanding) dengan pertambahan ilmu. Karenanya, dengan bertambahnya usia juga, ilmu kita juga semakin bertambah, karena itu amalan baik kita seharusnya semakin banyak. Seperti halnya ungkapan¬†‚ÄúBarangsiapa yang bertambah ilmunya akan tetapi tidak bertambah petunjuknya maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali semakin jauh dari Allah.‚Ä̬† (red ilmu dan amal). Dengan¬†Dies Natalis Universitas Telkom, semoga semakin banyak karya yang bermanfaat bagi bangsa, aamiin. Tentunya kontribusi yang bisa dilakukan sangat luas. Diantaranya adalah, mendidik generasi penerus bangsa yang memiliki pola pikir baik, melakukan¬†penelitian yang bisa menaikan martabat bangsa di dunia internasional sehingga bargaining level Indonesia meningkat, dan melakukan pengabdian masyarakat yang¬†bermanfaat bagi masyarakat dalam meningkatkan taraf hidup. Untuk Indonesia tercinta, usia 70 tahun merupakan simbol kedewasaan bangsa. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik. Tentunya kebaikan suatu negara ditunjukkan oleh insan bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia. ¬†Semoga kita bisa meraih asa dalam ridho-Nya, aamiin YRA.

 

Image’s cited from :¬†¬†http://3dxforum.com/index.php?/topic/1825-happy-birthday-sayako/,

Bahagia karena syukur

4

Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia , tentunya ADOLT MERCKLE, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.

Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia , tentunya MICHAEL JACKSON, penyanyi terkenal di USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis.

Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia , tentunya G. VARGAS, Presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya.

Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia , tentunya MARLIN MONROE, artis cantik dari USA, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga overdosis.

Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia , tentunya THIERRY COSTA, Dokter Terkenal dari Perancis, tidak akan membunuh dirinya akibat acara di televisi.

Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, BUKAN ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, kuasanya, cantiknya,  sehatnya, atau sesukses apapun hidupnya.

Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri

mampukah ia mau mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal.

“Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu. kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah doborong oleh mere∆ôőĪ.”

“Kalau kebahagiaan¬† itu ada di suatu tempat, pasti belahan lain di bumi ini akan KOSONG karena semua orang akan kesana berkumpul dimana kebahagiaan itu berada .”

Untungnya kebahagiaan  itu berada di dalam hati setiap manusia.

Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu.

“Yang kita perlukan adalah hati yang bersih dan ikhlas¬†serta pikiran yang jernih, maka kita bisa menciptakan rasa bahagia¬†itu kapanpun, dimanapun dan dengan kondisi apapun.”

Kebahagiaan itu hanya dimiliki oleh “Orang-orang ¬†yang dapat bersyukur“.

“JIKA ANDA ¬†TIDAK MEMILIKI APA YANG ANDA SUKAI, MAKA SUKAILAH APA YANG ANDA MILIKI SAAT INI”…….

Bersyukur adalah suatu kemampuan yang bisa dipelajari oleh siapapun..

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa bersyukur, aamiin YRA

 

Source: http://onedayonejuzz.blogspot.com/2014/08/jika-kekayaan-bisa-membuat-orang.html

Happy eid mubarak

0

TextArt_150716200106

Waktu senantiasa berlalu dan tak akan pernah kembali. Karenanya sangat tepat jika Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa yang paling jauh dari kita semua adalah masa lalu. Rasanya baru kemarin kita bersemangat mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan, bulan maghfirah yang penuh berkah. Kini, Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita, dan kita tidak pernah tahu apakah kita masih bisa berjumpa dengan Ramadhan berikutnya atau tidak. Semoga Alloh mempertemukan kita dengan Ramadhan berikutnya, aamiin YRA. Pada setiap akhir Ramadhan, sebagian besar orang-orang shalih senantiasa meneteskan air mata karena Ramadhan telah berlalu meninggalkannya dan mereka khawatir tidak akan bertemu lagi bulan Ramadhan yang akan datang.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata dalam sebuah khutbah shalat ‚ÄėIdul Fitri, ‚ÄúWahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa karena Allah selama tiga puluh hari, berdiri melakukan shalat selama tiga puluh hari pula, dan pada hari ini kalian keluar seraya memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut.‚ÄĚ Salah seorang di antara para jama‚Äôah terlihat sedih. Tak lama kemudian, seseorang bertanya kepadanya, ‚ÄúSesungguhnya hari ini adalah hari bersuka ria. Kenapa engkau malah terlihat bermuram durja? Ada apa gerangan?‚ÄĚ
Orang itu menjawab, ‚ÄúSesungguhnya, ucapanmu adalah benar. Namun demikian, aku hanyalah hamba yang diperintahkan oleh Rabb-ku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.‚ÄĚ Ia begitu khawatir dengan kondisi ini.
Kekhawatiran serupa juga pernah dirasakan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Menurut suatu riwayat, di suatu penghujung Ramadhan, Sayyidina Ali bergumam, ‚ÄúAduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang amalannya diterima agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang amalannya ditolak agar aku dapat ‚Äėmelayatnya‚Äô.‚ÄĚ
Hal serupa juga pernah diungkapkan oleh Abdullah bin Mas‚Äôud RA, ‚ÄúSiapakah gerangan di antara kita yang amalannya diterima untuk kita beri ucapan selamat, dan siapakah gerangan di antara kita yang amalannya ditolak untuk kita ‚Äėlayati‚Äô. Wahai orang yang amalannya diterima, berbahagialah engkau. Dan wahai orang yang amalannya ditolak, keperkasaan Allah adalah musibah bagimu.‚ÄĚ

Ungkapan-ungkapan diatas, sangatlah wajar. Karena tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita bisa berjumpa kembali dengan bulan yang penuh berkah, rahmat, dan maghfirah pada tahun berikutnya. Namun demikian, terkadang kita tidak merasakan kesedihan saat Ramadhan meninggalkan kita. Bahkan diantara kita terkadang larut dalam kegembiraan yang berlebihan dalam menyambut kedatangan Hari Raya ‚ÄėIedul Fitri. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa diberikan kesadaran dalam menjalani kehidupan fana’ ini, sehingga segala amalan ramadhan kita diterima Alloh SWT, aamiin YRA.

Shalawat untuk Rosul

0

Shalawat

Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ala ‘aali sayyidina Muhammad

Pada bulan Rabiul Awal, kita sering memperingati Maulid Nabi atau yang lebih dikenal sebagai hari kelahiran Rosululloh Sholallohu ‚ÄėAlaihi Wassalam. Tentunya berbagai cara bisa kita lakukan untuk mewujudkan rasa cinta pada yang mulia, Rosululloh Sholallohu ‚ÄėAlaihi Wassalam dan mengenang kemuliaannya. Pada kesempatan ini disampaikan sebuah cerita tentang detik-detik terakhir wafatnya Rosululloh Sholallohu ‚ÄėAlaihi Wassalam. Semoga kisah ini¬† menambahkan rasa cinta kita kepada Rosululloh, aamiin YRA.

Sebelum Rosulolloh wafat, beliau melakukan ibadah haji wada‚Äô (haji perpisahan). Pada saat tersebut turun firman Allah SWT,¬† Al Maidah ayat 3,¬† ‚ÄĚPada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan nitmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.‚ÄĚ ¬†Seiring turunnya firman Alloh ini, Abu Bakar menangis. Sahabat Rosulloh tersebut menyampaikan bahwa Ini adalah berita kematian Rosululloh Sholallohu ‚ÄėAlaihi Wassalam.

Sepulangnya dari haji wada, beliau terlihat sakit. Tiga hari sebelum Rosululloh Sholallohu ‚ÄėAlaihi Wassalam wafat, sakit beliau semakin terlihat bertambah parah. Selanjutnya beliau meminta mengumpulkan istri-istrinya dan memohon izin untuk tinggal di rumah Siti ‚ÄėAisyah, dan istri-istri beliau mengizinkannya. ¬†Rosululloh berkeinginan untuk berdiri, akan tetapi beliau tidak mampu. Datanglah ‚ÄėAli bin Abi Thalib membantu memapahnya, lalu Rosululloh dipindahkan ke rumah Siti ‚ÄėAisyah.

Saat Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wa salam berkhutbah pada minggu terkahir sebelum beliau wafat, beliau bersabda “Wahai umatku, kita semua dalam kekuasaan Allah dan dalam cinta kasih-Nya. Maka taat dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal kepada kalian, yaiut Al-Qur’an dan Sunnahku. Barangsiapa yang mencintai Sunnahku, berarti mencintaiku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk Surga bersama-sama denganku.”¬† Khutbah singkat tersebut diakhiri dengan pandangan mata yang tenang dari Rosululloh Sholallohu ‚ÄėAlaihi Wassalam kepada para sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata Rosululloh dengan berkaca-kaca, Umar Bin Khathab tersengal menahan nafas dalam tangisnya. Utsman Bin ‘Affan menarik nafas panjang. Ali bin Abi Thalib pun hanya menundukkan kepalanya.

Pada hari senin, matahari sudah mulai tergelincir, namun pintu rumah Rosulullah Sholallohu ‘alaihi Wa salam masih tertutup. Didalam rumah tersebut, Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wa salam terbaring lemah dengan kening yang berkeringat sampai membasahi pelepah kurma yang digunakan sebagai alas tidurnya. Sesaat kemudian, tiba-tiba dari luar pintu terdengar salam.

Sang tamu bertanya, “Assalamu’alaikum. Bolehkah saya masuk?”

Siti Fatimah tidak langsung mengijinkannya ¬†masuk, “Wa’alaikumsalam. maaf ayahku sedang sakit.”

Ia kembali menemui Rosululloh dan ternyata beliau sudah membuka mata sembari bertanya, “Siapakah dia wahai anakku?”

Siti Fatimah menjawab dengan lemah lembut, “Tidak tahu Ayah, ¬†sepertinya baru kali ini aku melihatnya.”

Selanjutnya Rosulullah menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan jiwa, sembari bersabda,¬† “Ketahuilah wahai Fatimah. Dialah yang akan menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah juga yang akan memisahkan kita dengan dunia. Dialah Malaikatul Maut.”

Seketika Fatimah terhenyak dan berusaha menahan tangisnya.

Ketika Malaikat Izroil mendekat, Rosulullah menanyakan kenapa Malaikat Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggillah Malaikat Jibril yang sudah bersiap di atas langit dunia untuk menyambut kedatangan Ruh kekasih Allah yang begitu Mulia ini.

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wa salam bertanya dengan suara yang lemah, “Jibril, katakanlah apa hakku nanti di hadapan Allah.”

Malaikat Jibril menjawab, “Semua pintu langit telah dibuka. Para Malaikat telah menanti Ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu.”

Namun demikain, ternyata yang disampaikan Malaikat Jibril tidak membuat hati Rosululloh senang. Sorot mata beliau masih dipenuhi kecemasan.

Malaikat Jibril bertanya, “Ya Rosululloh, apakah engkau tidak senang mendengar kabar ini?”

Rosululloh bersabda, “Katakan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

Malaikat Jibril menjawab, “Jangan khawatir ya Rosululloh. Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku, yakni Kuharamkan Syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya.”

Detik demi detik semakin berlalu. Saatnya Malaikat Izrail (Maut) melaksanakan tugasnya. Perlahan ruh Rosulullah Sholallohu ‘alaihi Wa salam ditariknya. Tampak sekujur tubuh Rosululloh bersimbah keringat dingin. Urat ¬†leher beliau mulai menegang.

Rosululloh menyampaikan sesuatu ke Malaikat Jibril dengan nada lirih,¬†¬† “Jibril, betapa sakitnya Sakratul Maut ini.”

Fatimah tak kuasa menatap Ayahnya, ia memejamkan matanya. Sayyidina Ali pun yang berada di sampingnya menunduk semakin dalam. Malaikat Jibril pun memalingkan wajahnya.

Rosululloh bertanya,¬† “Jibril, jijikkah engkau melihatku hingga engkau palingkan wajahmu dariku?”

Malaikat Jibril berkata,¬† “Ya Rosululloh, siapa yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajalnya?‚ÄĚ

Kemudian terdengar Rosululloh memekik karena merasakan sakit yang tak tertahankan. “Ya Allah, dahsyat sekali sakitnya sakaratul maut ini. Timpakan saja semua siksa sakaratul maut ini kepadaku, janganlah Engkau timpakan pada umatku.”

Sekujur tubuh Rosulullah mulai dingin, sebagian tubuhnya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya mulai bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya kepada Rosulullah Sholallohu ‘alaihi Wa salam.

“Uushikum bishshalaati wamaa malakat aymanukum.”

Rosululloh berpesan, ‚Äújagalah sholat kalian dan peliharalah orang-orang lemah diantara kalian.”

Tangisan hadirin pun tak tertahankan…. Sahabat Rosululloh saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya. Sayyidina Ali pun kembali mendekatkan telinga di bibir Rosulullah yang mulai tampak kebiru-biruan.

“Ummatii…Ummatii….Ummatii.”

Bagaimana nasib umatku.. umatku.. umatku.

Inna lillahi wainna ilaihi raji‚Äôun, manusia paling mulia telah kembali yang maha memiliki segalanya, di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 Hijriyah. ¬†Smoga sholawat dan salam senantiasa tercurah untuk Rosululloh Muhammad Sholallohu ‚ÄėAlaihi Wassalam.

Ila Hadroti Sayyidina wa Habibina Rosulullohi Muhammad Sholallohu ‚ÄėAlaihi Wassalam Al Fatihah ‚Ķ

Image’s cited from : http://channel-nahdliyyin.blogspot.com/2013/05/dahsyatnya-bacaan-sholawat.html

Go to Top