Posts tagged telkom university

Profile of Telkom University

0

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=zpUbAODTddM&w=560&h=315]

Bercermin

0

cermin

Cermin adalah kaca bening yg salah satu mukanya dicat dengan air raksa atau sejenisnya sehingga dapat memperlihatkan bayangan apapun yg ditaruh di depannya. Kegiatan bercermin biasa dilakukan oleh seseorang sebagai ajang untuk mengevaluasi diri.
Magic Mirror on the wall, who is the fairest one of all?” Itu ungkapan sang Ratu pada cermin ajaib dalam film Snow White and the Seven Dwarfs (1937).

Ketika apa yang tampak di cermin tak sesuai harapan, maka segera memperhatikan kekurangan tersebut dan memperbaikinya. Saya tidak sedang mebicarakan cermin dalam makna denotatif ataupun cermin ajaib milik sang ratu. Cermin yang dibicarakan disini adalah cermin kehidupan (muhasabah) yang digunakan untuk  memperhatikan diri sendiri, lebih tepatnya introspeksi diri.
Disadari atau tidak, introspeksi tersebut tak kan pernah terjadi… tanpa ada keinginan sendiri untuk memperbaiki dari diri.

Sungguh beruntung saat anda memiliki banyak cermin, sehingga anda bisa memperhatikan dari segala sudut dan selanjutnya memperbaiki diri. Namun alangkah sayangnya… saat ada orang lain yang menyampaikan tentang kekurangan kita, ternyata kita tidak siap menerimanya bahkan tak jarang  merasa terhina.

LUPA..
Bukankah itu merupakan cermin sebagai ajang refleksi untuk senantiasa memperbaiki diri
PANIK..
Khawatir orang lain tahu kekurangan kita, padahal senyatanya itulah ungkapan sayang dari Alloh agar kita senantiasa memperbaiki diri
MALU..
Karena merasa seperti ditelanjangi didepan umum. Sepertinya lebih ridho dengan azab neraka dari pada malu di dunia… na udzubillah.

Cermin itu harus dihancurkan!!!
Seperti halnya yang dilakukan sang Ratu saat magic mirror menyampaikan tak sesuai dengan yang dikehendaki.

Terkadang kita sepakat bahwa rasa sayang Alloh itu diberikan dalam bentuk apapun, baik nyaman maupun tidak nyaman bagi hati kita.

Tetapi, saat muncul  kritik dari ‘cermin kehidupan’  dan tidak sesuai harapan, kita lupakan hal itu, panik dan rasa malu lebih dikedepankan.. kemana kesadaran itu?

Demikian pula, saat kita jadi cermin… seyogyanya kita sampaikan juga sesuatu kekurangan dari yang bercermin secara obyektif. Sungguh tercela, saat sang cermin menambahkan cerita diluar bagian  yang nampak didalam cermin.

Beruntunglah orang yang memiliki cermin yang jelas dan obyektif, sehingga setiap yang bercermin dapat mengambil manfaat darinya untuk introspeksi dan memperbaiki diri.

Wallahu ‘alam bishowab
Semoga kita mampu menjadi cermin yang objektif dan sekaligus menjadi orang yang mampu bercermin dalam kehidupan ini, sehingga kita termasuk orang yang senantiasa memperbaiki diri… aamiin YRA

La takhaf wa la tahzan

0

Screen Shot 2013-11-08 at 4.38.49 AM

Masih terngiang ungkapan seorang sahabat tat kala kepenatan dunia melanda, “La takhaf wa la tahzan”. Suatu hal yang manusiawi bahwa terkadang kita khawatir pada suatu kondisi dan kecewa pada suatu keadaan.   Semakin besar pengharapan, semakin besar rasa kecewa yang mengikutinya saat harapan tidak terjadi. Terkadang kita mengumbar rasa khawatir bahkan  kecewa pada orang lain dalam hati kita. Sudahkah kita merenung, adakah orang lain yang khawatir atau  kecewa karena keberadaan kita?

Peran kita sebagai makhluk sosial, tentunya ini menempatkan akan  kita sebagai pribadi (yang seharusnya) fleksibel. Kita dapat berperan sebagai penerima atau pemberi, penolong atau yang ditolong, dan seterusnya. Karenanya, kita sebagai sesama makhluk Alloh, sudah sepatutnya melakukan tolong menolong dalam kebaikan. Terkadang kita terlena menjadi pribadi yang ‘pasif’, seolah tak berdaya untuk memberi. Hal ini membawa kita terjebak dalam situasi dimana terlalu berharap pada orang lain. Padahal, kita seharusnya jangan berharap banyak pada manusia karena sesungguhnya hanya kepada Alloh kita bergantung.

Dari Abu Hurairah, Rasululloh SAW bersabda: Barang siapa yang melepaskan  kesulitan seorang mu’min dari suatu kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitannya pada hari kiamat. Dan barang siapa yang memudahkan urusan orang lain, niscaya akan Allah memudahkan baginya urusan di dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya suka menolong saudaranya… (HR Muslim)
Dalam satu kesempatan lain, Rasulullah SAW ditanya: “Siapakah orang terbaik?” Beliau menjawab : “Yang paling bermanfaat bagi sesama manusia”.
Saat kita mampu memberikan manfaat untuk orang lain, Alloh akan memudahkan segala urusan kita.

So, La takhaf wa la tahzan… tetaplah berkontribusi positif untuk lingkungan.
Dalam kesempatan hidup didunia yang fana ini, mari kita melakukan yang terbaik agar keberadaan kita dirasakan manfaatnya oleh lingkungan.
Semoga kita senantiasa dalam lindungan-Nya sehingga menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Aamiin YRA.

Image’s cited from http://www.magforwomen.com/15-tips-to-help-others-in-small-ways/

Hitam Pekat

4

dark

Hidup tak berasa hidup
Itulah hidup saat kematian menjelang
Tersentak dan terisak tak berkesudahan
Asa pun terbersit tuk kembali dan beramal shaleh, namun…
Malaikat Izroil tak memberi pilihan

Pundi harta tak bisa membantu
Elok rupa tak bisa menolong
Kata tidak pun… tak bisa terucap
Alam kubur nan gelap mulai terbayang
Terjebak menuju dalam hitam pekat kegelapan abadi

(image’s cited from :http://vimeo.com/47071531)

My Math

2

math_makes_ur_life_add_up

Sejak dari bangku sekolah dasar, matematika sering kali dianggap pelajaran momok. Tak cuma si anak yang kebingungan, orang tua pun sering dibuat kalang kabut. Segala daya dikerahkan para orang tua bagi anaknya agar bisa memahami matematika, mulai dari mengikuti les sampai bimbingan belajar.
Ada apa dengan matematika?
Apakah ada yang salah dengan cara belajar matematika?
Perlu disadari bahwa belajar matematika tidak hanya sekedar belajar menghitung. Kalau hanya menghitung, sudah ada kalkulator dan komputer, ngapain repot-repot mikir. Tapi, sebagian besar orang ‘berpikir’ seperti itu.

Ternyata pengertian matematika pun, agak melenceng dari konsep matematika sebenarnya. Tengok saja pengertian (definisi) matematika yang ada dalam kamus bahasa indonesia. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, matematika adalah “ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan”. Ini telah membuat kita terjebak pada definisi yang kurang tepat. Kalimat ini bukan rumusan yang tepat, sekalipun dapat dikatakan memadai untuk dicantumkan dalam kamus. Ada cabang matematika yang tidak langsung berurusan dengan bilangan, misalnya geometri, topologi, teori graf serta logika matematika.

Sementara itu, dari wikipedia, “mathematics is the body of knowledge centered on such concepts as quantity, structure, space, and change, and also the academic discipline that studies them”. Dalam matematika diuji kebenaran sebuah pernyataan, diteliti makna atau implikasi dari setiap kata yang terdapat didalamnya, serta dicoba dikembangkan pernyataan-pernyataan lain yang berkaitan. Sudah tentu, pernyataan tersebut bisa tentang apa saja, yang jelas ini terkait dengan konsep dari kuantitas, struktur, ruang, dan perubahan. Namun demikian, untuk memudahkan mempelajari dan mencermatinya, salah satu obyek yang menarik untuk dicermati adalah bilangan.

Hal inilah yang membuat persepsi setiap orang terhadap matematika senantiasa terkait dengan bilangan dan operasinya. Pada sesi berikutnya akan dijelaskan tentang motivasi yang terkait dengan indahnya pola pikir matematika dalam suatu konteks pembelajaran. Selain itu, akan diberikan juga paparan yang terkait dengan pemodelan dan beberapa aplikasi matematika, sehingga diharapkan pembaca akan termotivasi untuk memahami konsep matematika dengan benar.

Pada suatu kelas dimana mata pelajaran matematika diberikan, hasil yang diharapkan adalah meliputi hal-hal berikut ini :
a. mampu memahami konsep dasar matematika dan operasi dasar.
b. dapat menikmati matematika dan membangun kepercayaan diri dalam menggunakan matematika.
c. mampu belajar menganalisis dan memberikan argumen dalam setiap langkah penyelesaian matematika.

Dalam mempelajari, matematika memerlukan kemampuan problem solving, berpikir kritis dan analitis, intuisi dan perencanaan yang tajam, serta kerja keras. Ini merupakan bekal yang sangat diperlukan setiap orang untuk menyongsong segala jenis tantangan atau pekerjaan di masa yang akan datang. Karena walaupun teknologi informasi dan komunikasi secanggih apapun, tetap perlu dukungan kemampuan orang yang membuat, memodifikasi dan mengendalikan teknologi tersebut. Seperti diungkapkan oleh B.F. Skinner (1904-1990) :
“The real question is not whether machines think, but whether men do”
Jadi, percuma mempunyai hardware yang canggih dan software yang mumpuni, jika brainware (orang yang terkait dengan pekerjaan itu) tidak mampu menggunakannya secara maksimal dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.

Berdasarkan kurikulum yang disarankan oleh The International Bureau of Education UNESCO (The International Comission on Education for the 21 st Century), ada empat pilar pendidikan yang perlu dikembangan setiap perguruan tinggi :
Learning to know
• Learning to do
• Learning to be
• Learning to live together

Keempat pilar tersebut akan memberikan bekal berupa life long learning. Sejalan dengan ini, setiap orang harus memahami bahwa tujuan proses belajar adalah memaksimalkan potensi yang dimiliki orang tersebut. Salah satu upaya memaksimalkan potensi tersebut dapat dilakukan dan ditempa dengan baik, melalui proses peningkatan kemampuan memahami dan membangun ide dalam suatu problem solving. Perhatikan bahwa, pola seperti ini senantiasa muncul dalam matematika. Dengan demikian, diharapkan pola pikir setiap orang akan tertata dalam konteks pemahaman dan kemampuan analisis yang tajam, sehingga siap dalam menyongsong segala tantangan yang akan muncul di masa depan.

Setelah belajar matematika, ada beberapa pola pikir yang seharusnya menjadi outcome pembelajaran bagi setiap orang yang mempejarinya, antara lain :
• Problem Solving
Kemampuan memahami dan menganalisis segala permasalahan dan membangun ide penyelesaian untuk masalah tersebut.
• Communication
Kemampuan menyampaikan ide penyelesaian dan memberikan penjelasan penyelesaian secara tuntas.
• Connections
Kemampuan dalam menjelaskan keterkaitan antar parameter yang terlibat dalam suatu persamaan atau sistem, dan senantiasa bisa memberikan benang merah dari suatu penjelasan yang diberikan.
• Reasoning
Kemampuan memberikan argumen dari setiap langkah penyelesaian berdasarkan konsep yang telah diketahui sebelumnya.

Sesungguhnya, tidak ada hasil maksimum yang diperoleh dengan cara instan. Hal ini berarti bahwa untuk mencapai segala tujuan dengan baik diperlukan suatu proses yang baik pula. Pola pikir diterapkan dalam perkuliahan matematika, dengan tujuan akan menjadi kebiasaan dalam berprilaku di masyarakat, baik dalam dunia akademik maupun kehidupan
Dengan demikian, filosofi dasar bagi setiap orang untuk belajar matematika adalah :
• Segala sesuatu dilakukan step by step
• Kesempurnaan dalam berusaha
• Argumen yang tepat dalam setiap langkah
• Benang merah dalam menyampaikan solusi.

Tak hanya dalam mempelajari matematika, keempat hal tersebut juga merupakan suatu hal yang penting (sebagai bekal) dalam mengarungi kehidupan sekarang dan masa mendatang. Setelah menyempurnakan ikhtiar, selanjutnya serahkan segalanya kepada Allah dan bersyukur serta bertawaqal atas segala hasil yang diperoleh.

(Image is cited from : http://www.bisd.us/benavides/math.htm)

Asa, Ikhtiar, dan Ikhlas

2

kerja-keras

Mungkin aku tak seharum bunga mawar;
Mungkin aku tak seindah langit sore   (by coklat)

Waktu terus berlalu dan tak akan pernah kembali. Segala apa yang dihadapi, lakukan dengan kesungguhan (Be passionate), persembahkan usaha yang terbaik (Do the best), dan senantiasa memberikan manfaat untuk kingkungan (Give more).

Setiap saat, persiapkan segalanya dengan keluasan hati…
Terkadang hati tak tenang saat harapan tak tercapai. Semakin besar pengharapan pada suatu asa, semakin besar pula  usaha yang perlu disiapkan untuk meredam kekecewaan.

Perlu disadari…
Kewajiban kita hanya memaksimalkan ikhtiar dan senantiasa melakukan yang terbaik, selanjutnya sandarkan segala harapan dalam bentuk keikhlasan  kepada-Nya. Karena itu, tanamlah  sejuta kebaikan untuk sesama dan berikan pupuk keikhlasan padanya, maka Sang pemberi berkah  akan memberikan yang terbaik untuk kita semua. aamiin YRA

(image is cited from http://www.langitberita.com/top-lists/40317/inilah-7-alasan-kenapa-anda-tidak-boleh-kerja-lembur/)

BDG – Be Passionate, Do the best, and Give more

5

Apakah kita termasuk orang yang sukses? Mungkin pertanyaan itu adalah sebagian yang kita pikirkan untuk perenungan eksistensi kita sebagai makhluk. Salah satu parameter yang bisa kita jadikan sebagai acuan untuk mengukur kesuksesan kita adalah kita mengetahui posisi kita terhadap diri kita sendiri, lingkungan dan Tuhan. Be Passionate dalam menghadapi segala ‘pekerjaan’.  Tentunya perlu disadari  bahwa tak ada yang mengetahui apakah seseorang passion atau tidak terhadap segala pekerjaan yang dihadapinya, kecuali orang tersebut dan Yang Maha Mengetahui. Karena itu  dengan passion seseorang  senantiasa menanamkan  kesadaran terhadap diri sendiri terhadap suatu hal yang sedang dihadapinya. Ingatlah bahwa  kita dianjurkan  senantiasa sabar terhadap segala yang menimpa, baik sesuatu yang tidak menyenangkan maupun yang menyenangkan. Saat kita passion dalam mengerjakan sesuatu,  lebih dari separuh  langkah untuk memperoleh hasil terbaik sudah direngkuh.

Namun demikian, passion saja tak cukup.  Dianjurkan agar setiap orang  melakukan yang terbaik (Do the best) dalam mengerjakan segala hal. Parameter baik atau tidaknya suatu usaha yang kita lakukan, yang mengukur adalah lingkungan kita. Hal inilah yang mendasari pemikiran bahwa filosofi untuk senantiasa melakukan  yang terbaik didasarkan pada asas kemanfaatan untuk lingkungan kita. Karena kita bagian dari lingkungan tersebut, Insya Alloh kita dapat  merasakan manfaat dari apa yang kita berikan untuk lingkungan.  Karenanya, semestinya kita  tidak berpikir hal terbaik untuk dirinya sendiri, tapi berbuat terbaiklah  untuk lingkungan kita. Sebaik-baiknya orang adalah yang memberikan manfaat buat orang lain. Yang perlu digarisbawahi adalah orientasi pemahaman melakukan yang terbaik adalah bentuk usahanya, bukan hasil.  The perfect on effort memberikan makna bahwa terkait hasil diserahkan kepada Yang Maha Penentu Segalanya  (tawakal). Perlu disadari bahwa, kita tidak memiliki  kemampuan apapun tanpa kehendak-Nya. Seperti halnya   setetes air di lautan yang luas, kita sama sekali tidak bermakna. Dalam suatu cerita, isi wejangan Dewa ruci kepada Bima mengatakanm bahwa siapa yang mengenal dirinya akan mengenal pula Tuhannya. Bukankah, Alloh sangat menyukai orang yang memberi manfaat utk orang lain. Saatnya kita memberikan makna.

Apakah kita sudah melakukan segala pekerjaan  yang kita hadapi dengan kesungguhan hati? Apakah kita sudah melakukan segala pekerjaan dengan tekad usaha yang terbaik? Selanjutnya, kesadaran terhadap posisi diri kita dihadapan Tuhan tergambar dari apa yang kita berikan untuk orang lain (Give more). Bagaimana kita bisa memberikan manfaat lebih pada orang lain, lingkungan dan bangsa ini bahkan lebih jauh untuk seluruh alam, jika kita tidak pernah bersungguh-sungguh (passionate) dan melakukan yang terbaik (do the best) terhadap segala apa yang kita hadapi.

Nobody knows, the way it’s gonna be…  We should  :

  • Be passionate
  • Do the best
  • Give more

and lean our hopes (only) on God.

Sejatinya, kesuksesan seseorang adalah kombinasi tiga hal yakni capaian kepuasan seseorang, manfaat bagi lingkungan, dan bertambah beratnya timbangan kebaikan dimata Alloh SWT.

Semoga kita termasuk golongan orang yang sukses. aamiin YRA.

(Image is cited from : http://ultimateyouthworker.blogspot.com/2012_07_01_archive.html)

Go to Top