Mimpi dan Harapan

mimpi

Mantan presiden India, Dr. APJ Abdul Kalam, pernah mengungkapkan, “You have to dream before your dreams can come true”. Saya sependapat dengan beliau. Namum demikian, perlu diingat bahwa mimpi setiap orang bisa bermuara pada dua kemungkinan, yakni harapan atau angan-angan.  Mimpi seseorang akan berubah jadi sebuah harapan, saat orang tersebut melakukan ikhtiar untuk mewujudkannya. Sebaliknya, jika orang tersebut tidak melakukan  apapun, maka mimpi itu hanya akan menjadi angan-angan.

Dalam keterbatasan kita sebagai makhluk, terkadang kita memandang mimpi sebagai asa terbentang dengan mengesampingkan hal lain. Tatkala mimpi itu sendiri sebagai objek bergerak, bukan tak mungkin panah harapan yang sudah didesain dengan ikhtiar maksimal pun  bisa meleset. Dalam perjalanan waktu, ketidakpastian dan kerentanan akan perubahan merupakan keniscayaan. Tentunya kesadaran itu mutlak diperlukan, capaian dari suatu harapan belum tentu bisa terwujud seperti yang dibayangkan sang pemimpi. Segalanya sangat bergantung pada kehendak-Nya. Karena itu, sudah sepatutnya kita meletakan segala usaha  dalam mewujudkan mimpi itu adalah sebagai bagian dalam ibadah kita kepada-Nya. Bukan semata-mata berfokus bahwa ikhtiar yang dilakukan adalah untuk pencapaian segala harapan.

Dalam pencapaian harapan, seringkali kita berupaya dan berdoa. Kita senantiasa mengharap kepada Alloh agar diberikan kelapangan.
Ada hal yang menarik di kitab Al Hikam terkait dengan kelapangan. Ibnu Atha’illah lebih mengkhawatirkan kelapangan daripada kesempitan.
Saat lapang, nafsu bisa memainkan peranannya dalam perasaan senang sesorang.
Saat dalam kesempitan, nafsu tidak bisa berbuat apa-apa.
Bisa jadi, Alloh memberikan kesenangan dunia, namun menghalangimu dari petunjuk-Nya.
Bisa jadi, Alloh menghalangimu dari kesenangan dunia, namun membukakan jalan kebaikan yang lain sehingga kita senantiasa dalam ridho-Nya.

Tanpa meninggalkan asa dalam memaksimalkan ikhtiar, tentunya ungkapan indah “La Hawla wa la Quwwata illa Billah, wallahu’ala kulli syai’in qodir“, sangat pantas dikedepankan dalam rangka mengingatkan posisi kita sebagai makhluk-Nya.   Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah, dan Allah adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Semoga kita  termasuk orang-orang yang senantiasa bersyukur dan bersabar terhadap segala sesuatu yang kita hadapi.. aamiin YRA

image’s cited from http://slrdone.blogdetik.com/

ilmu dan amal

Screen Shot 2014-08-12 at 8.38.24 AM

Seperti diketahui bahwa perang Badr merupakan salah satu perang besar bagi kaum muslim saat itu.

Para pahlawan Islam saat itu begitu luar biasa melawan para kafir, dan akhirnya mereka mendapat kemenangan.

Rasulullah ingin sekali memberikan penghargaan kepada para pahlawan ini. Lalu Rasulullah mengumpulkan mereka disuatu tempat pada hari jumat.

Pada saat para pahlawan Badr datang ke tempat pertemuan tersebut, tempat telah penuh sesak.

Orang-orang pada tidak mau memberi tempat kepada yang baru datang itu, sehingga para pahlawan itu terpaksa berdiri.

Rasulullah meminta berdiri orang-orang itu (yang lebih dulu duduk), sedang para pahlawan Badr disuruh duduk di tempat mereka.

Orang-orang yang diiminta pindah tempat merasa tersinggung perasaannya. Lalu mereka berkata, “Saya sudah disini dari tadi pagi ya Muhammad, kenapa kamu menyuruh kami pergi”

 

Karenanya, pada hari Jumat itu, Alloh menurunkan wahyunya seperti yang diungkapkan dalam surat Al Mujadalah ayat 11, yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu : ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberimu kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan : ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

 

Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merupakan rangkuman dari sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.

Sumber ilmu menurut ajaran Islam :

·  Qauliyah,  yaitu ilmu yang berasal dari ayat-ayat yang Allah firmankan dalam kitab-kitab-Nya dan menjadi pedoman hidup bagi manusia.

·  Kauniyah, yakni ilmu yang berasal karena kesempurnaan manusia yang diberikan akal  oleh Allah swt untuk berpikir dan menganalisa semua yang ada  diatas dunia.

Namun demikian, saat ini,  terkadang kauniyah begitu mendominasi.

Karenanya diperlukan kesadaran penuh dari kita dalam memahami ilmu yang bersifat kauniyah.

Jelas bahwa  manusia dengan akal, pikiran dan perasaan adalah ciptaan-Nya.

Sungguh absurd saat kauniyah lebih dikedepankan daripada qauliyah.

 

Kenapa diwajibkan  menuntut ilmu?

Karena kalau kita mengerjakan sesuatu amal  tanpa  tahu ilmunya, maka amalan  kita tidak ada nilainya dan tidak diterima oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Sepertihanya diuangkapkan oleh Imam Ghazali : “Ilmu tanpa amal adalah gila, dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia.”

Dalam kitab Talimul Mutaallim, Syekh az-Zarnuji,  dijelaskan  bahwa banyak sekali umat Islam di masanya yang akan  mengalami kegagalan dalam menuntut ilmu. Kegagalan tersebut  bukanlah kegagalan lulus atau tidak lulus sepertihalnya dalam ujian sekolah/kampus. Namun  lebih jauh lagi, kegagalan tersebut disebabkan karena kita tidak dapat menjadikan ilmu yang diperoleh itu  bermanfaat. Disinilah pentingnya kebermanfaatan untuk lingkungan kita.

Menurut Syekh Zarnuji, kegagalan ini disebabkan oleh beberapa hal yakni kekeliruan motivasi dalam  menuntut ilmu (niat), kurangnya ibadah, dan rendahnya sikap tawakkal (berserah diri kepada Allah),  kurang wara` (menjauhi makan barang haram), kurang zuhud (melepaskan ketergantungan terhadap materi). Sementara seluruh hal di atas merupakan syarat-syarat dan jalan yang dibutuhkan oleh setiap orang dalam mencapai ilmu pengetahuan yang diridhai Allah SWT.

 

Oleh karena itu, tidal berlebihan, munculnya ungkapan yang sering kita dengar, yakni  ”Man zada ilman wa lam yazdad hudan lam yazdad minallahi illa bu`dan.”

Artinya: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya akan tetapi tidak bertambah petunjuknya maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali semakin jauh dari Allah.”

Banyak sekali yang dipandang berilmu namun ‘tak kuasa’ untuk mengamalkan ilmunya.

Hal ini menjadikan ilmu yang dimilikanya menjadi sebuah pengetahuan kembali.

Karenanya, pengetahuan –>  ilmu –>  amal shaleh.

Tentunya, kualitas amal senantiasa tidak luput dari perhatian. Kita dituntut tak sekedar mengamalkan ilmu namun lebih dari itu, ilmu yang dimiliki selayaknya diamalkan dengan ikhlas dan benar. Amalan tidak akan diterima sampai seseorang itu ikhlas dan benar dalam beramal.  Yang   dimaksud ikhlas adalah amalan tersebut dikerjakan hanya karena Allah. Yang dimaksud benar dalam beramal adalah selalu mengikuti petunjuk-Nya. Jelas bahwa, orientasinya bukan untuk kesenangan atau kepentingan dunia. Ingat bahwa  dunia adalah kesenangan yang memperdaya  (red. dikala senja menjelang)

 

Imam Al Ghozali mengatakan bahwa barang siapa berilmu, mau mempraktekkan dan membimbing manusia dengan ilmunya bagaikan matahari. Selain menerangi dirinya juga menerangi orang lain dan bagaikan minyak kasturi yang harum yang menyebarkan keharumannya kepada orang lain yang berpapasan dengannya.

Jika sudah berilmu, terkadang jadi terjebak untuk “merasa pintar” padahal lebih baik “pintar merasa”. 
sehingga diharapkan kita menjadi orang yang berempati bagi masyarakat sekitar. Karenanya berhati-hatilah. Jangan sampai segala peringatan Alloh dalam ayat berikut menimpa kita. “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. ” (QS Al Furqan:23).

 

*Saya menuliskan judul “ilmu dan amal” dengan huruf kecil semua… karena ilmu dan amal kita hanya  terjadi karena rakhmat dan pentunjuk Alloh. Tanpa-Nya… sungguh tiada daya dan upaya sehingga kita  berillmu dan mampu mengamalkannya.

 

 

 

 

Dikala Senja Menjelang

Screen Shot 2014-08-05 at 9.43.34 AM

 

Waktu terus berlalu dan tak akan pernah kembali.

Terlalu asyik bermain, terlalu sibuk bekerja terkadang melalaikan kita.

Akhirnya, lupa bahwa senja telah datang… matahari segera terbenam…  kegelapan segera datang.

Senja itu (denotatif)  sangat jelas bisa diprediksi, dari menit ke menit… bahkan dari detik ke detik.

Namun senja usia kita, tak akan pernah ada yang tahu kecuali Sang Khalik.

Adakah ‘bekal penerang’  kita ketika  senja itu datang?

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati…” (Ali ‘Imron :185).

Excatly,  terkadang saat izroil datang…  ajal ditenggorokan barulah kita tersadar dan muncul sejuta penyesalan atas apa yang dilalui selama hidup.

Saat itu, barulah sadar bahwa “… Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (Ali ‘Imron :185).

 

Saat kematian datang tidak terduga,  beberapa orang biasa mengungkapkan rasa ketidakpercayaan.

“masa sih?”, “kok  bisa?”, “bagaimana bisa terjadi?”, “unbelievable”, dan lain-lain.

Dengan pemahamannya, seseorang menimpali, “itu sudah takdir”

‘Seseorang yang kritis’ pun ikut berujar, “kita tidak  usah berbuat apapun, jika sudah takdir maka akan kita terjadi”

Ia lupa bahwa “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka,” (Ar Raad : 11)

‘Si kritis’ pun menyodorkan ayat yang lain,  “… dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Ali ‘Imron : 29)

Ia pun masih penasaran “sejauh mana hubungan takdir Alloh dengan segala upaya kita?”

Sesungguhnya segala yang kita alami telah tertulis di Lauh Mahfuzh (sebut aja takdir).

 

Menurut pemahaman saya, takdir tergambar dalam suatu  flowchart (ada pilihan dan looping).

Misalkan takdir yang dimaksud meliputi rezeki, jodoh, dan kematian

Rezeki sudah jelas porsinya, bisa ditempuh dengan cara halal atau haram (silahkan pilih). PIlihan itulah yang akan membawa kita ke Syurga atau Neraka.

Terkait dengan jodoh, bermacam liku yang dilalui, kadang datang tak disangka, sampai akhirnya pengamat mengatakan “kalau sudah jodoh, tak akan kemana”.

Kematian pun (saya pikir), yang pasti adalah waktunya. Proses kematian itu bisa bermacam cara. Lagi-lagi ada ‘pilihan’

 

Kadang Takdir disebut juga dengan kosakata lain, yakni nasib.

Ketika ada kondisi yang tidak sesuai harapan maka seseorang akan mengatakan “ugh… sudah nasibku”

Padahal, jika kita sadar bahwa setiap tahap dalam kehidupan ini ibarat flowchart,

maka perlu kesadaran penuh dalam mengarungi kehidupan ini, sehingga kita bisa memaksimalkan ikhtiar untuk merubah jalur sesuai dengan keinginan kita.

Ada yang menyela, “Itu sudah maksimal, bung!”

Saya perlu mengingatkan untuk tetap sabar (red nothings),  selayaknya orang yang beriman.. kesabaran itu adalah tiada berbatas.

Yakinlah, bahwa Alloh memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.

Percayalah… bahwa Alloh senantiasa memberikan yang terbaik.

Dengan demikian, semoga kita senantiasa termasuk hamba yang pandai bersyukur, aamiin YRA.

 

Dalam hidup ini terkadang kita mengalami looping process (renungkan)

Karenanya kita dianjurkan untuk memperhatikan apa yang kita lakukan, sehingga akan menjadi lebih baik (continuously improvement).

“… dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok…” (Al Hasyr: 18)

Benar bahwa waktu yang telah berlalu tak akan pernah kembali,

tapi banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki ‘nasib’ dengan mengambil pelajaran dari masa lalu.

 

Dr. ‘Aidh Al Qarni mengungkapkan  “Hidup ini adalah cerita pendek, dari tanah, di atas tanah, dan kembali ke tanah,

Lalu hisab (yg hanya menghasilkan dua kemungkinan); pahala atau siksa.”

Saya sepakat bahwa dalam kefana’an selayaknya kita senantiasa berhati-hati dalam meniti shirotil mustaqim yang kita lalui saat ini.

Karenanya, sandarkanlah segala keinginan kita pada yang Maha Kuasa atas segala sesuatu (red: the right choice).

Dengan demikian, semoga kita semua ‘bisa memilih’ takdir sehingga kita bias sukses dalam setiap tahapan kehidupan yang dilalui. Sukses yang dimaksud adalah

–        Tercapainya kepuasan pribadi (dengan bersyukur)

–        Mampu memberikan (sebesar-besarnya) manfaat bagi lingkungan

–        Bertambahnya timbangan kebaikan dimata Alloh SWT

Amiin YRA

 

Ini hanya sekedar dari hasil perenungan hamba Alloh yang lemah.

Mohon maaf atas segala kekurangan, sesungguhnya segala kebenaran adalah hanya milik Alloh.

 

 

*Flowchart adalah penggambaran secara grafik urutan prosedur  dari beberapa langkah  logis yang disusun secara sistematis.

**Lauh Mahfuzh adalah kitab tempat Allah menuliskan segala seluruh skenario/ catatan kejadian di alam semesta.

 

Image’s taken by : Agung Trisetyarso

 

Nothing’s gonna change my love for You

patience

Sekilas seperti akan membahas lagunya George Benson 🙂

Namun perhatikan judul tulisan ini, saya hanya mengganti you menjadi You.

Harus diakui, kadang kita terlena dengan suatu kondisi, apalagi arus disekitar begitu kuat untuk menghanyutkan kita

Dari mulai obrolan, bacaan, lagu sampai tontonan begitu kuat mempengaruhi kita

Awalnya hiburan, jadi informasi yang berinteraksi dengan logika, pembenaran terjadi…

dan akhirnya bisa menggeser ke-istiqomah-an kita dari ridho-Nya.

 

Alangkah luar biasa, jika kita senantiasa menyadari pergeseran tersebut.

Salah satu cara melatih sensitifitas kesadaran dalam ber-istiqomah di jalan-Nya tentu bukan hal mudah.

Sabar adalah salah satu caranya.

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153)

Sungguh ini merupakan anugerah terindah dari Alloh, saat kita bisa bersabar terhadap segala yang dihadapi.

Untuk menjadi sabar, tentunya perlu latihan.

“…barang siapa yang mensabar-sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar…” (HR. Bukhari)

Sabar itu perjuangan, seperti halnya diungkapkan Abu Bakar Ash-Shiddiq yaitu: “sangat sulit untuk bersabar, tetapi menyia-nyiakan pahala dari kesabaran itu lebih buruk.

 

Imam Ali bin Abi Thalib RA menyampaikan “Sabar itu ada tiga yakni sabar dalam musibah, sabar dalam taat, dan sabar dalam menjauhi maksiat

Ini membawa pengertian bahwa kita pun harus sabar dalam menjalani segala aspek dalam liku kehidupan.

Tak cukup perkataan “aku ingin tergolong orang-orang yang sabar” tanpa ada tindakan yang nyata.

Di antara kita, sudah tentu, menyadari dan ingin senantiasa istiqomah dalam ridho-Nya.

 

Sungguh ironis jika ada seseorang yang mengaku dirinya beriman lalu mengatakan “kesabaran itu ada batasnya”

Mari kita merenung, mengapa ungkapan tersebut sampai terjadi.

Mungkinkah itu pengaruh dari obrolan, bacaan, lagu sampai tontonan kita, yang memberikan contoh dan selanjutnya kita membenarkan berdasarkan logika kita?

Manusia diperkenankan menggunakan akal dan pikirannya.

Namun demikian,  perlu disadari bahwa logika kita hanyalah logika sebagai makhluk dalam keterbatasan.

Karena itu, disiapkan tuntunan-Nya dalam Al-Qur’an dan Hadits

 

Semoga kita semua termasuk orang yang senantiasa bersabar dalam menghadapi segala sesuatu.

Semoga kita juga mencintai segala yang ada dalam dunia ini adalah karena-Nya.

Semoga kita senantiasa istiqomah berada dalam ridho-Nya

Dengan sabar, harapan itu muncul “Nothing’s gonna change my love for You (Alloh)”.

… Aamiin YRA

 

Image’s cited from : http://aqidahyusri.tumblr.com/post/33065117523/taken-with-instagram

Shalawat untuk Rosul

Shalawat

Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ala ‘aali sayyidina Muhammad

Pada bulan Rabiul Awal, kita sering memperingati Maulid Nabi atau yang lebih dikenal sebagai hari kelahiran Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassalam. Tentunya berbagai cara bisa kita lakukan untuk mewujudkan rasa cinta pada yang mulia, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassalam dan mengenang kemuliaannya. Pada kesempatan ini disampaikan sebuah cerita tentang detik-detik terakhir wafatnya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassalam. Semoga kisah ini  menambahkan rasa cinta kita kepada Rosululloh, aamiin YRA.

Sebelum Rosulolloh wafat, beliau melakukan ibadah haji wada’ (haji perpisahan). Pada saat tersebut turun firman Allah SWT,  Al Maidah ayat 3,  ”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan nitmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”  Seiring turunnya firman Alloh ini, Abu Bakar menangis. Sahabat Rosulloh tersebut menyampaikan bahwa Ini adalah berita kematian Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassalam.

Sepulangnya dari haji wada, beliau terlihat sakit. Tiga hari sebelum Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassalam wafat, sakit beliau semakin terlihat bertambah parah. Selanjutnya beliau meminta mengumpulkan istri-istrinya dan memohon izin untuk tinggal di rumah Siti ‘Aisyah, dan istri-istri beliau mengizinkannya.  Rosululloh berkeinginan untuk berdiri, akan tetapi beliau tidak mampu. Datanglah ‘Ali bin Abi Thalib membantu memapahnya, lalu Rosululloh dipindahkan ke rumah Siti ‘Aisyah.

Saat Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wa salam berkhutbah pada minggu terkahir sebelum beliau wafat, beliau bersabda “Wahai umatku, kita semua dalam kekuasaan Allah dan dalam cinta kasih-Nya. Maka taat dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal kepada kalian, yaiut Al-Qur’an dan Sunnahku. Barangsiapa yang mencintai Sunnahku, berarti mencintaiku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk Surga bersama-sama denganku.”  Khutbah singkat tersebut diakhiri dengan pandangan mata yang tenang dari Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassalam kepada para sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata Rosululloh dengan berkaca-kaca, Umar Bin Khathab tersengal menahan nafas dalam tangisnya. Utsman Bin ‘Affan menarik nafas panjang. Ali bin Abi Thalib pun hanya menundukkan kepalanya.

Pada hari senin, matahari sudah mulai tergelincir, namun pintu rumah Rosulullah Sholallohu ‘alaihi Wa salam masih tertutup. Didalam rumah tersebut, Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wa salam terbaring lemah dengan kening yang berkeringat sampai membasahi pelepah kurma yang digunakan sebagai alas tidurnya. Sesaat kemudian, tiba-tiba dari luar pintu terdengar salam.

Sang tamu bertanya, “Assalamu’alaikum. Bolehkah saya masuk?”

Siti Fatimah tidak langsung mengijinkannya  masuk, “Wa’alaikumsalam. maaf ayahku sedang sakit.”

Ia kembali menemui Rosululloh dan ternyata beliau sudah membuka mata sembari bertanya, “Siapakah dia wahai anakku?”

Siti Fatimah menjawab dengan lemah lembut, “Tidak tahu Ayah,  sepertinya baru kali ini aku melihatnya.”

Selanjutnya Rosulullah menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan jiwa, sembari bersabda,  “Ketahuilah wahai Fatimah. Dialah yang akan menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah juga yang akan memisahkan kita dengan dunia. Dialah Malaikatul Maut.”

Seketika Fatimah terhenyak dan berusaha menahan tangisnya.

Ketika Malaikat Izroil mendekat, Rosulullah menanyakan kenapa Malaikat Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggillah Malaikat Jibril yang sudah bersiap di atas langit dunia untuk menyambut kedatangan Ruh kekasih Allah yang begitu Mulia ini.

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wa salam bertanya dengan suara yang lemah, “Jibril, katakanlah apa hakku nanti di hadapan Allah.”

Malaikat Jibril menjawab, “Semua pintu langit telah dibuka. Para Malaikat telah menanti Ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu.”

Namun demikain, ternyata yang disampaikan Malaikat Jibril tidak membuat hati Rosululloh senang. Sorot mata beliau masih dipenuhi kecemasan.

Malaikat Jibril bertanya, “Ya Rosululloh, apakah engkau tidak senang mendengar kabar ini?”

Rosululloh bersabda, “Katakan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

Malaikat Jibril menjawab, “Jangan khawatir ya Rosululloh. Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku, yakni Kuharamkan Syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya.”

Detik demi detik semakin berlalu. Saatnya Malaikat Izrail (Maut) melaksanakan tugasnya. Perlahan ruh Rosulullah Sholallohu ‘alaihi Wa salam ditariknya. Tampak sekujur tubuh Rosululloh bersimbah keringat dingin. Urat  leher beliau mulai menegang.

Rosululloh menyampaikan sesuatu ke Malaikat Jibril dengan nada lirih,   “Jibril, betapa sakitnya Sakratul Maut ini.”

Fatimah tak kuasa menatap Ayahnya, ia memejamkan matanya. Sayyidina Ali pun yang berada di sampingnya menunduk semakin dalam. Malaikat Jibril pun memalingkan wajahnya.

Rosululloh bertanya,  “Jibril, jijikkah engkau melihatku hingga engkau palingkan wajahmu dariku?”

Malaikat Jibril berkata,  “Ya Rosululloh, siapa yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajalnya?”

Kemudian terdengar Rosululloh memekik karena merasakan sakit yang tak tertahankan. “Ya Allah, dahsyat sekali sakitnya sakaratul maut ini. Timpakan saja semua siksa sakaratul maut ini kepadaku, janganlah Engkau timpakan pada umatku.”

Sekujur tubuh Rosulullah mulai dingin, sebagian tubuhnya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya mulai bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya kepada Rosulullah Sholallohu ‘alaihi Wa salam.

“Uushikum bishshalaati wamaa malakat aymanukum.”

Rosululloh berpesan, “jagalah sholat kalian dan peliharalah orang-orang lemah diantara kalian.”

Tangisan hadirin pun tak tertahankan…. Sahabat Rosululloh saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya. Sayyidina Ali pun kembali mendekatkan telinga di bibir Rosulullah yang mulai tampak kebiru-biruan.

“Ummatii…Ummatii….Ummatii.”

Bagaimana nasib umatku.. umatku.. umatku.

Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, manusia paling mulia telah kembali yang maha memiliki segalanya, di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 Hijriyah.  Smoga sholawat dan salam senantiasa tercurah untuk Rosululloh Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wassalam.

Ila Hadroti Sayyidina wa Habibina Rosulullohi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wassalam Al Fatihah …

Image’s cited from : http://channel-nahdliyyin.blogspot.com/2013/05/dahsyatnya-bacaan-sholawat.html