Kang Adiwijaya

Kang Adiwijaya

This user hasn't shared any profile information

Home page: http://adiwijaya.staff.telkomuniversity.ac.id

Posts by Kang Adiwijaya

Danau impian

2

danau2

Dalam suatu  perjalanan menuju suatu danau nan indah di tengah hutan, untuk mencapainya, setiap orang bisa melalui jalur manapun. Untuk tujuan yang sama, kita bisa memilih jalur yang disukai. Karena kita belum pernah mengunjungi danau tersebut sebelumnya, berhati-hati dalam  berperjalanan merupakan suatu keniscayaan. Dalam perjalanan panjang itu, mungkin kita hanya melewati jalanan datar, tapi penuh onak dan duri sepanjang jalan yang dilalui. Sebagian orang juga ada yang memilih jalan yang lapang diawal, ternyata selanjutnya ketemu arus yang sangat deras di sungai berbatu tajam. Mungkin juga halangan itu datang diawal perjalanan, kita harus melewati tebing curam atau jalanan terjal yang membahayakan jiwa. Namun selanjutnya, kita temui padang datar yang tidak terlalu memberatkan dalam perjalanan sehingga kita bisa mencapai danau impian itu.

 

Begitulah perjalanan hidup kita didunia. Dalam mengarungi flowchart kehidupan, kita bisa memilih jalur mana yang kita inginkan. Namun pilihan itu hanya sebuah harapan, karena sesungguhnya ketentuan Alloh di atas segalanya. Janganlah berprasangka buruk atas segala yang terjadi saat ini, karena itu mungkin analogi dari awal perjalanan yang harus melwati jalanan terjal dan tebing yang curam. Mungkin dirasakan berat, namun bisa jadi bahwa perjalan berikutnya akan lebih ringan. Wallohu’alam. Tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Disitulah tempatnya kita senantiasa bergantung dan berharap kepada-Nya. Saat Alloh memberikan suatu ketetapan, yakinlah bahwa ini adalah yang terbaik dari-Nya. Yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut Alloh, begitupun sebaliknya, yang buruk terjadi menurut kita, bisa jadi dibalik aitu ada hikmah sehingga Alloh akan memberikan yang terbaik setelahnya.

 

Seyogyanya kita bisa menikmati segala apa yang kita lalui dan apa yang telah menjadi ketetapan-Nya.

Jelas bahwa kita bergantung kepada-Nya,

Jelas bahwa kita tidak bisa apapun tanpa-Nya

Hanya kepada-Nya kita berharap

Semoga kita senantiasa diberikan yang terbaik dari-Nya

Tak terbayang jika kita hidup tanpa limpahan rahmat-Nya

La hawla wala quwwata illa billah…

So I’m gonna love You… like I’m gonna lose You

Hanya karena cinta-Nya sehingga kita masih bisa menikmati segala apa yang terjadi.

Semoga kita bisa mencapai danau impian (syurga) yang kita dambakan, aamiin YRA

 

*danau hanya ilustrasi 🙂

Image’s cited from : http://images.huffingtonpost.com/2014-06-09-LakeMathesonTerryBamforth.jpg

Jumat Berkah

0
Nasihat Rasul dan Sahabat

 

Dari Abu Hurairah, Rasululloh SAW bersabda: “Barang siapa yang melepaskan kesulitan seorang mu’min dari suatu kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitannya pada hari kiamat. Dan barang siapa yang memudahkan urusan orang lain, niscaya akan Allah memudahkan baginya urusan di dunia dan akhirat….”
Semoga kita termasuk orang yang senantiasa mampu berkontribusi positif dan memberikan manfaat untuk sesama, aamiin YRA

 

Dari Abu Bakar ash Shiddiq r.a., “Tidak ada manfaat dari uang jika tidak dibelanjakan di jalan Allah. Tidak ada kebaikan dalam diri seseorang jika kebodohannya mengalahkan kesabarannya. Dan jika seseorang tertarik dengan pesona dunianya yang rendah, Allah swt tidak akan ridho kepadanya selama dia masih menyimpan hal itu dalam hatinya.”

Kini… hedonisme melanda, kecintaan pada pesona dunia semakin tidak terbendung
Semoga kita termasuk orang yang senantiasa mendapat ridho Alloh, aamiin YRA.

 

Dari Umar bin Khattab r.a., “Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya,” (Ihya’ Ulumuddin 4/203)
Kini… orientasi kemuliaan terkadang bergeser karena harta, kedudukan, dan sejenisnya.
Semoga kita termasuk orang yang senantiasa dimuliakan Allah, aamin YRA

 

Dari Utsman bin Affan r.a., “Segala sesuatu pasti memiliki penyakit, nikmat pun juga punya penyakit. Penyakit agama ini (Islam) adalah orang-orang yang sering menyebar fitnah. Mereka selalu memperlihatkan apa yang kalian senangi dan menyembunyikan apa yang kalian benci. Mereka laksana burung unta yang selalu mengikuti orang yang pertama kali teriak.”

Semoga kita termasuk orang yang senantiasa terhindar dari fitnah, aamiin YRA

 

Dari Ali bin Abi Thalib r.a., “Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutan yang membuat kita sulit. Karena itu jangan pernah mencoba untuk menyerah dan jangan pernah menyerah untuk mencoba dalam amanah, keikhlasan dan kejujuran. Maka jangan katakan pada Allah aku punya masalah, tetapi katakan pada masalah AKU PUNYA ALLAH Yang Maha Segalanya”.
Kini… ketakutan akan kehilangan dunia semakin mengelora, hubbud dunya dan melupakan kematian dan yaumul hisab semakin kentara

Semoga kita termasuk orang yang senantiasa terhindar dari semua rasa takut kecuali karena Alloh, aamiin YRA

Happy birthday

0

Screen Shot 2015-08-04 at 9.50.37 AM

Ucapan “Selamat ulang tahun” sangat lekat dengan lingkungan kita. Tak hanya dikalangan perorangan, tingkat institusi pun senantiasa mengucapkan dan merayakan hari ulang tahun tersebut. Dikalangan akademik, kita sudah sering mendengarnya, yakni dies natalis. Dies Natalis  merupakan suatu peringatan atas hari lahir yang di dalam sejumlah besar budaya dianggap sebagai peristiwa penting yang menandai awal perjalanan kehidupan. Dalam bulan ini pun, sedang berlangsung dies natalis Universitas Telkom ke-2. Dibulan ini pun, seluruh rakyat indonesia bersuka cita merayakan hari kemerdekaan, hari lahirnya bangsa indonesia yang ke -70, 17 agustus. Sebagian besar ulama telah memberikan fatwa terkait dengan  perayaan hari ulang tahun. Namun demikian, saya tidak akan membahas hukum atau fatwa terkait ulang tahun atau milad. Saya lebih tertarik dengan bagaimana kita memaknai atau merenungi peringatan hari lahir atau milad atau pun dies natalis.

 

Bertambahnya usia adalah suatu keniscayaan, namun bertambah dewasa belum tentu. Ungkapan itu seringkali kita ungkapkan atau pun kita  dengar. Salah satu ungkapan Rasulullah yang diriwayatkan Hakim r.a. ““Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka”. Sungguh merupakan pukulan telak bagi kita yang terlalu santai dalam menalani kehidupan ini. Tentunya tidak santai bukan berarti terburu-buru. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa.” (HR. Bukhari). Dalam hal ini, santai diartikan tidak peduli terhadap waktu dan  tidak serius (tidak memberikan yang terbaik) dalam setiap amalan.

 

Kembali ke topik milad :), seiring pertambahan usia seyogyanya kita senantiasa menjadi lebih baik.  Menurut saya, pertambahan usia juga linier (sebanding) dengan pertambahan ilmu. Karenanya, dengan bertambahnya usia juga, ilmu kita juga semakin bertambah, karena itu amalan baik kita seharusnya semakin banyak. Seperti halnya ungkapan “Barangsiapa yang bertambah ilmunya akan tetapi tidak bertambah petunjuknya maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali semakin jauh dari Allah.”  (red ilmu dan amal). Dengan Dies Natalis Universitas Telkom, semoga semakin banyak karya yang bermanfaat bagi bangsa, aamiin. Tentunya kontribusi yang bisa dilakukan sangat luas. Diantaranya adalah, mendidik generasi penerus bangsa yang memiliki pola pikir baik, melakukan penelitian yang bisa menaikan martabat bangsa di dunia internasional sehingga bargaining level Indonesia meningkat, dan melakukan pengabdian masyarakat yang bermanfaat bagi masyarakat dalam meningkatkan taraf hidup. Untuk Indonesia tercinta, usia 70 tahun merupakan simbol kedewasaan bangsa. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik. Tentunya kebaikan suatu negara ditunjukkan oleh insan bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia.  Semoga kita bisa meraih asa dalam ridho-Nya, aamiin YRA.

 

Image’s cited from :  http://3dxforum.com/index.php?/topic/1825-happy-birthday-sayako/,

Bahagia karena syukur

4

Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia , tentunya ADOLT MERCKLE, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.

Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia , tentunya MICHAEL JACKSON, penyanyi terkenal di USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis.

Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia , tentunya G. VARGAS, Presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya.

Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia , tentunya MARLIN MONROE, artis cantik dari USA, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga overdosis.

Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia , tentunya THIERRY COSTA, Dokter Terkenal dari Perancis, tidak akan membunuh dirinya akibat acara di televisi.

Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, BUKAN ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, kuasanya, cantiknya,  sehatnya, atau sesukses apapun hidupnya.

Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri

mampukah ia mau mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal.

“Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu. kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah doborong oleh mereƙα.”

“Kalau kebahagiaan  itu ada di suatu tempat, pasti belahan lain di bumi ini akan KOSONG karena semua orang akan kesana berkumpul dimana kebahagiaan itu berada .”

Untungnya kebahagiaan  itu berada di dalam hati setiap manusia.

Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu.

“Yang kita perlukan adalah hati yang bersih dan ikhlas serta pikiran yang jernih, maka kita bisa menciptakan rasa bahagia itu kapanpun, dimanapun dan dengan kondisi apapun.”

Kebahagiaan itu hanya dimiliki oleh “Orang-orang  yang dapat bersyukur“.

“JIKA ANDA  TIDAK MEMILIKI APA YANG ANDA SUKAI, MAKA SUKAILAH APA YANG ANDA MILIKI SAAT INI”…….

Bersyukur adalah suatu kemampuan yang bisa dipelajari oleh siapapun..

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa bersyukur, aamiin YRA

 

Source: http://onedayonejuzz.blogspot.com/2014/08/jika-kekayaan-bisa-membuat-orang.html

Taqwa dan cinta dunia

0

Abu Bakar Ash-Shiddiq RA pernah mengungkapkan nasihat untuk kita semua, agar tidak terperosok dalam kegelapan yang bernama cinta dunia (hubb al-dunya). Ini didasari oleh ungkapan Rasulullah SAW yang diriwayatkan Baihaqi, ”Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.” Dunia hanyalah hiasan sementara yang bisa menjerumuskan jika kita salah orientasi.
Alloh SWT mengingatkan kita dalam Q.S Al Kahfi : 46, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Kegelapan yang diungkapkan Abu Bakar, menyebabkan hawa nafsu tidak terkendali dan akan merusak segala aspek ibadah kita. Karena hawa nafsu cenderung membawa kita pada hal-hal yang kurang baik. Apa solusinya? Penerang dari kegelapan cinta dunia adalah ketaqwaan. Selepas ramadhan, derajat ketaqwaan yang menjadi tujuan dalam berpuasa, semoga tercapai secara paripurna. Salah satu nilai tertinggi ibadah puasa ialah pembebasan manusia dari ketergantungan terhadap dunia materi (Abdul Munir Mulkan).

Sejalan dengan itu, saya tertarik dengan salah satu ungkapan Abu Bakar yang lain, yakni “Orang yang cerdas ialah orang yang taqwa”
Sesungguhnya, hanya Alloh yang mampu mengukur derajat taqwa seseorang. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13). Namun demikian, parameter tersebut bisa dilihat dari bagaimana orientasi kita terhadap dunia.

Diantara kita (biasanya) bersepakat bahwa kita tidak cinta dunia. Sayangnya, itu terjadi hanya dalam kondisi normal. Bagaimana saat kondisi tertekan atau kekhawatiran sedang melanda, kita bisa mengukur sendiri… 🙂 Seberapa besar kecintaan kita pada dunia.

Sesungguhnya, dunia bukanlah tujuan.

Dunia ini hanyalah perantara untuk mencapai akhirat yang lebih baik. Sayyidina Ali pernah mengungkapkan: “Janganlah kalian menuntut sesuatu dari dunia yang lebih besar dari pada apa yang bisa menyampaikanmu ke akhirat.”

Semoga kita menjadi orang yang berhasil menguasai dunia, BUKAN yang dikuasai dunia… Aamiin YRA

Happy eid mubarak

0

TextArt_150716200106

Waktu senantiasa berlalu dan tak akan pernah kembali. Karenanya sangat tepat jika Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa yang paling jauh dari kita semua adalah masa lalu. Rasanya baru kemarin kita bersemangat mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan, bulan maghfirah yang penuh berkah. Kini, Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita, dan kita tidak pernah tahu apakah kita masih bisa berjumpa dengan Ramadhan berikutnya atau tidak. Semoga Alloh mempertemukan kita dengan Ramadhan berikutnya, aamiin YRA. Pada setiap akhir Ramadhan, sebagian besar orang-orang shalih senantiasa meneteskan air mata karena Ramadhan telah berlalu meninggalkannya dan mereka khawatir tidak akan bertemu lagi bulan Ramadhan yang akan datang.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata dalam sebuah khutbah shalat ‘Idul Fitri, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa karena Allah selama tiga puluh hari, berdiri melakukan shalat selama tiga puluh hari pula, dan pada hari ini kalian keluar seraya memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut.” Salah seorang di antara para jama’ah terlihat sedih. Tak lama kemudian, seseorang bertanya kepadanya, “Sesungguhnya hari ini adalah hari bersuka ria. Kenapa engkau malah terlihat bermuram durja? Ada apa gerangan?”
Orang itu menjawab, “Sesungguhnya, ucapanmu adalah benar. Namun demikian, aku hanyalah hamba yang diperintahkan oleh Rabb-ku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.” Ia begitu khawatir dengan kondisi ini.
Kekhawatiran serupa juga pernah dirasakan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Menurut suatu riwayat, di suatu penghujung Ramadhan, Sayyidina Ali bergumam, “Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang amalannya diterima agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang amalannya ditolak agar aku dapat ‘melayatnya’.”
Hal serupa juga pernah diungkapkan oleh Abdullah bin Mas’ud RA, “Siapakah gerangan di antara kita yang amalannya diterima untuk kita beri ucapan selamat, dan siapakah gerangan di antara kita yang amalannya ditolak untuk kita ‘layati’. Wahai orang yang amalannya diterima, berbahagialah engkau. Dan wahai orang yang amalannya ditolak, keperkasaan Allah adalah musibah bagimu.”

Ungkapan-ungkapan diatas, sangatlah wajar. Karena tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita bisa berjumpa kembali dengan bulan yang penuh berkah, rahmat, dan maghfirah pada tahun berikutnya. Namun demikian, terkadang kita tidak merasakan kesedihan saat Ramadhan meninggalkan kita. Bahkan diantara kita terkadang larut dalam kegembiraan yang berlebihan dalam menyambut kedatangan Hari Raya ‘Iedul Fitri. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa diberikan kesadaran dalam menjalani kehidupan fana’ ini, sehingga segala amalan ramadhan kita diterima Alloh SWT, aamiin YRA.

Mimpi dan Harapan

0

mimpi

Mantan presiden India, Dr. APJ Abdul Kalam, pernah mengungkapkan, “You have to dream before your dreams can come true”. Saya sependapat dengan beliau. Namum demikian, perlu diingat bahwa mimpi setiap orang bisa bermuara pada dua kemungkinan, yakni harapan atau angan-angan.  Mimpi seseorang akan berubah jadi sebuah harapan, saat orang tersebut melakukan ikhtiar untuk mewujudkannya. Sebaliknya, jika orang tersebut tidak melakukan  apapun, maka mimpi itu hanya akan menjadi angan-angan.

Dalam keterbatasan kita sebagai makhluk, terkadang kita memandang mimpi sebagai asa terbentang dengan mengesampingkan hal lain. Tatkala mimpi itu sendiri sebagai objek bergerak, bukan tak mungkin panah harapan yang sudah didesain dengan ikhtiar maksimal pun  bisa meleset. Dalam perjalanan waktu, ketidakpastian dan kerentanan akan perubahan merupakan keniscayaan. Tentunya kesadaran itu mutlak diperlukan, capaian dari suatu harapan belum tentu bisa terwujud seperti yang dibayangkan sang pemimpi. Segalanya sangat bergantung pada kehendak-Nya. Karena itu, sudah sepatutnya kita meletakan segala usaha  dalam mewujudkan mimpi itu adalah sebagai bagian dalam ibadah kita kepada-Nya. Bukan semata-mata berfokus bahwa ikhtiar yang dilakukan adalah untuk pencapaian segala harapan.

Dalam pencapaian harapan, seringkali kita berupaya dan berdoa. Kita senantiasa mengharap kepada Alloh agar diberikan kelapangan.
Ada hal yang menarik di kitab Al Hikam terkait dengan kelapangan. Ibnu Atha’illah lebih mengkhawatirkan kelapangan daripada kesempitan.
Saat lapang, nafsu bisa memainkan peranannya dalam perasaan senang sesorang.
Saat dalam kesempitan, nafsu tidak bisa berbuat apa-apa.
Bisa jadi, Alloh memberikan kesenangan dunia, namun menghalangimu dari petunjuk-Nya.
Bisa jadi, Alloh menghalangimu dari kesenangan dunia, namun membukakan jalan kebaikan yang lain sehingga kita senantiasa dalam ridho-Nya.

Tanpa meninggalkan asa dalam memaksimalkan ikhtiar, tentunya ungkapan indah “La Hawla wa la Quwwata illa Billah, wallahu’ala kulli syai’in qodir“, sangat pantas dikedepankan dalam rangka mengingatkan posisi kita sebagai makhluk-Nya.   Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah, dan Allah adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Semoga kita  termasuk orang-orang yang senantiasa bersyukur dan bersabar terhadap segala sesuatu yang kita hadapi.. aamiin YRA

image’s cited from http://slrdone.blogdetik.com/

More educated

0

logo SoC

Bernostalgia dengan ungkapan Prof. Nuh di Kompas, Selasa, 23 September 2014, “Ke depan hampir bisa dipastikan persoalan akan bertambah kompleks dan rumit, bagaimana cara kita mengatasi kompleksitas dan kerumitan tersebut? solusinya menurut beliau adalah  kemampuan berpikir dan masyarakat yang  well educated (ter­didik)”. Dua solusi tersebut bisa dicapai dengan sistem pendidikan yang baik.  Pendidikan, menurut KBBI,  merupakan  proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Di Telkom University,  sudah sepatutnya setiap dosen dan mahasiswa  fokus juga pada bagaimana caranya  berpikir, tak hanya fokus pada objek  yang harus dipikirkan. Artinya ranahnya adalah konseptual tetap harus diajarkan sehingga diharapkan akan terbentuk pola pikir yang siap leading dalam menghadapai kompleksitas dan kerumitan yang akan muncul pada masa mendatang. Ini menjadi penting, karena kemampuan bisa berpikir dengan baik merupakan syarat cukup agar seseorang memiliki skill communication yang baik. Pola pikir yang baik pula akan memudahkan dalam impelementasi PRIME (Profesionalism, Recognition of achievement, Integrity, Mutual respect, Entrepreneurship) untuk seluruh unsur civitas akademik.

Nelson Mandela pernah mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan senjata paling ampuh yang dapat digunakan untuk mengubah dunia. Sementara itu, Malcolm X berpendapat bahwa pendidikan merupakan paspor untuk masa depan, karenanya hari esok merupakan  milik orang-orang yang mempersiapkan diri pada hari ini. Dimanakah peran kita? Tentunya peran kita adalah sebagai pendidik dan pembelajar. Suatu saat, mahasiswa sebagai pembelajar, disaat lain mereka pun berperan sebagai pendidik, paling tidak untuk mendidik dirinya sendiri. Begitupun dosen, tidak mungkin bisa menjadi pendidik yang baik jika tidak pernah mau menjadi pembelajar yang baik yang senantiasa memperbaiki diri.  Perlu diingat kembali bahwa tujuan proses belajar adalah memaksimalkan potensi yang dimiliki seseorang orang. Oleh karena itu,  sudah sepatutnya setiap dari kita memahami bahwa bealajar itu tak hanya fokus pada objek  yang harus dipikirkan, tapi kita harus senantiasa belajar juga bagaimana caranya  berpikir. Menteri Anies Baswedan pernah  mengungkapkan bahwa kalau kita ingin maju menjadi bangsa yang besar, jangan hanya fokus pada sumber daya alam yang kita miliki. Tetapi fokuslah pada sumber daya manusia Indonesia yang melimpah. Kunci memajukan bangsa Indonesia adalah pada manusianya. Karenanya,  pendidikan yang perlu dikedepankan adalah untuk membangun integritas, menghasilkan orang-orang jujur dan berkarakter, sehingga jika diberi amanah maka mewujudkan amanah itu dalam bentuk kebahagiaan, kemajuan dan kesejahteraan bagi semua.
Ingatkah kita, pada kisah pendakian Mount Everest (1953), saat tinggal satu langkah mencapai puncak, Tenzing Norgay (sang pemandu) mempersilahkan Sir Edmund Hillary, untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia itu. Tentunya dalam banyak target pencapaian, seyogyanya kita pandai menempatkan diri. Terkadang, kita berperan sebagai sosok Tenzing yang tulus dan tetap fokus pada tugas pokok sebagai pemandu. Dilain kesempatan, kita juga perlu mengambil peran sebagai sir Edmun., sehingga menjadi sosok yang menjadi panutan dalam kegigihan berjuang. Dimanapun kita berperan, the important thing is give your all best for every effort, sehingga keberadaan kita bisa dirasakan oleh lingkungan sekitar. Segala  proses untuk menjadi pendidik maupun pembelajar yang baik, tentunya cukup  kita dan Alloh yang tahu (ikhlas). Harapannya, sejauh mana peran kita dalam mengemban amanah sebagai pendidik dan pembelajar, tetap terbungkus rapih dalam ikhtiar maksimal yang dikelola penuh keikhlasan dan kesabaran. Analogi yang perlu diresapi adalah sebagai berikut. Dalam  menyerap sari makanan yang berguna bagi seluruh bagian tumbuhan, akar pun tidak terlihat namun senantiasa dalam upaya maksimal untuk perkembangan tumbuhan itu. Begitupun, batu pondasi dan bata merah yang tertanam dan tidak nampak, namun yang pasti pasti ia mengokohkan kerangka bangunan.  Semoga segala usaha para pendidik dan pembelajar tetap istiqomah dalam ridhonya, sehingga peranan dalam kemajuan bangsa menjadi bekal kelak di yaummil hisab.

Pictext

0

Pictext adalah gabungan picture dan text, semoga menginspirasi dan bermanfaat untuk rekans.

Terinspirasi Lebah

lebah

Terinspirasi Bulan

 Bisa

Saling mengingatkan

peringatan

BAIK

baik

Beramal baik sebelum kegelapan abadi (kematian) datang

 amal

Menuntut Ilmu

ilmu

Semoga kita menjadi dewasa

dewasa 

 

@All of pictexts has been published in Adiwijaya

Bercermin

0

cermin

Cermin adalah kaca bening yg salah satu mukanya dicat dengan air raksa atau sejenisnya sehingga dapat memperlihatkan bayangan apapun yg ditaruh di depannya. Kegiatan bercermin biasa dilakukan oleh seseorang sebagai ajang untuk mengevaluasi diri.
Magic Mirror on the wall, who is the fairest one of all?” Itu ungkapan sang Ratu pada cermin ajaib dalam film Snow White and the Seven Dwarfs (1937).

Ketika apa yang tampak di cermin tak sesuai harapan, maka segera memperhatikan kekurangan tersebut dan memperbaikinya. Saya tidak sedang mebicarakan cermin dalam makna denotatif ataupun cermin ajaib milik sang ratu. Cermin yang dibicarakan disini adalah cermin kehidupan (muhasabah) yang digunakan untuk  memperhatikan diri sendiri, lebih tepatnya introspeksi diri.
Disadari atau tidak, introspeksi tersebut tak kan pernah terjadi… tanpa ada keinginan sendiri untuk memperbaiki dari diri.

Sungguh beruntung saat anda memiliki banyak cermin, sehingga anda bisa memperhatikan dari segala sudut dan selanjutnya memperbaiki diri. Namun alangkah sayangnya… saat ada orang lain yang menyampaikan tentang kekurangan kita, ternyata kita tidak siap menerimanya bahkan tak jarang  merasa terhina.

LUPA..
Bukankah itu merupakan cermin sebagai ajang refleksi untuk senantiasa memperbaiki diri
PANIK..
Khawatir orang lain tahu kekurangan kita, padahal senyatanya itulah ungkapan sayang dari Alloh agar kita senantiasa memperbaiki diri
MALU..
Karena merasa seperti ditelanjangi didepan umum. Sepertinya lebih ridho dengan azab neraka dari pada malu di dunia… na udzubillah.

Cermin itu harus dihancurkan!!!
Seperti halnya yang dilakukan sang Ratu saat magic mirror menyampaikan tak sesuai dengan yang dikehendaki.

Terkadang kita sepakat bahwa rasa sayang Alloh itu diberikan dalam bentuk apapun, baik nyaman maupun tidak nyaman bagi hati kita.

Tetapi, saat muncul  kritik dari ‘cermin kehidupan’  dan tidak sesuai harapan, kita lupakan hal itu, panik dan rasa malu lebih dikedepankan.. kemana kesadaran itu?

Demikian pula, saat kita jadi cermin… seyogyanya kita sampaikan juga sesuatu kekurangan dari yang bercermin secara obyektif. Sungguh tercela, saat sang cermin menambahkan cerita diluar bagian  yang nampak didalam cermin.

Beruntunglah orang yang memiliki cermin yang jelas dan obyektif, sehingga setiap yang bercermin dapat mengambil manfaat darinya untuk introspeksi dan memperbaiki diri.

Wallahu ‘alam bishowab
Semoga kita mampu menjadi cermin yang objektif dan sekaligus menjadi orang yang mampu bercermin dalam kehidupan ini, sehingga kita termasuk orang yang senantiasa memperbaiki diri… aamiin YRA

Kang Adiwijaya's RSS Feed
Go to Top