Archive for June, 2020

Kebangkitan Nasional Melalui Pembangunan Generasi Unggul Menuju Indonesia Emas

2

Photo : Pendidik harus menjadi role model

 

Salah satu tantangan yang muncul dalam laporan World Economic Forum terkait dengan daya saing global (2019) yaitu pentingnya keseimbangan antara integrasi teknologi dan sumber daya manusia (SDM) untuk meningkatkan produktivitas. Sumber daya manusia merupakan faktor kunci dalam menghadapi perkembangan teknologi. Proses pembentukan SDM yang memiliki kualitas terbaik serta berdaya saing tinggi yang mampu menghadapi  persaingan global menjadi modal dasar yang harus diutamakan. Generasi dan masyarakat yang mampu menyelaraskan antara kemajuan teknologi dengan penyelesaian masalah sosial melalui system yang terintegrasi menjadi inti dalam Society 5.0 atau masyarakat 5.0.  Pengembangan dan pemanfaatan teknologi harus berorientasi pada kebutuhan manusia (Human-centered Technology).

Perubahan yang sangat cepat dan persaingan yang sangat ketat  menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi  ditengah era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity). Diperlukan kemampuan untuk meningkatkan kapasitas diri untuk menjadi manusia yang lebih adaptif dan handal agar bisa bertahan serta mampu memberikan kontribusi untuk bangsa ini.

Kondisi ini disadari betul  oleh banyak instansi, bahwa untuk menjaga keberlanjutan usahanya diperlukan upaya untuk menciptakan budaya (culture) positif bagi para pegawainya. Namun demikian, terkadang “gagal fokus” karena budaya hanya dipandang sebagai pengetahuan tambahan. Sebaik apapun strategi, jika tidak didukung budaya kerja dari para pegawainya maka instansi tersebut akan mengalami kesulitan dalam menjaga keberlanjutan usahanya. Dalam kehidupan berbudaya dan bermasyarakat, kebiasaan seseorang (habit) merupakan  tindakan individu yang dilakukan secara terus menerus, sedangkan budaya (culture) adalah kebiasaan yang menjadi ciri suatu masyarakat dalam lingkungan tertentu. Kebiasaan seseorang (habit)  akan  mempengaruhi dirinya, dan terus akan mempengaruhi lingkungan yang lebih besar, sehingga akhirnya menjadi budaya suatu masyarakat bahkan suatu bangsa. 

Kemajuan suatu bangsa  sangat bergantung dari kebiasaan individu-individu di dalamnya dan budaya dari masyarakatnya. Membangun budaya yang baik dari suatu bangsa adalah syarat cukup untuk membangun peradaban yang berkelanjutan dari bangsa tersebut. Dengan demikian, untuk menuju ke arah tersebut, kebiasaan setiap individu di dalamnya harus dipupuk ke arah yang lebih baik.  

Di masa pandemi COVID-19 telah memaksa sebagian besar dari kita ke dalam isolasi dan mendefinisikan kembali “kondisi normal” dalam kehidupan pribadi dan pekerjaan. Sebagian besar dari kita bekerja dari rumah, hal ini membawa tantangan baru dalam menjaga kehidupan kerja kita berbeda dari kehidupan pribadi kita. Dengan kondisi sekarang ini, mungkin akan menjadi kebiasaan (habit) pada masa mendatang, paska pandemic. Efek pandemi terkadang bisa membuat kita kehilangan motivasi. Padahal bekal kemampuan dan motivasi yang tinggi akan dapat melahirkan berbagai peluang untuk kita. Peluang ini tak layak ditunggu, namun harus diburu dan diciptakan. Saat ini, banyak orang beranggapan bahwa kita harus menghindari suatu masalah, padahal dari setiap masalah selalu ada peluang yang bisa manfaatkan dan memberikan kontribusi positif yang dampaknya tidak hanya untuk diri sendiri bahkan juga untuk orang lain. Setelah masa pandemi berakhir, akan sangat banyak bermunculan peluang usaha baru, yang kemungkinan belum terpikirkan sebelumnya. Karena itu, memaksimalkan kombinasi dari kemampuan, motivasi dan pemanfaatan peluang merupakan kebiasaan yang signifikan dalam membentuk budaya yang baik.

Untuk menciptakan budaya yang baik maka dibutuhkan peningkatan kapasitas diri sendiri, kita perlu melakukan continuous quality improvement (peningkatan kualitas diri secara berkelanjutan). Perlu disadari, bahwa dalam diri kita ini selalu ada room for improvement. Apabila kita menelisik diri kita masing-masing pasti selalu ada kesempatan untuk berintrospeksi dan memperbaiki diri (muhasabah). Kita seyogyanya bisa melakukan introspeksi (evaluasi diri) dan melakukan pengukuran terhadap performansi kinerja masing-masing.  Kenapa hal tersebut penting? Karena kita tidak akan pernah bisa melakukan peningkatan kualitas apabila kita tidak pernah tahu ukuran kualitas diri kita masing-masing. Dengan melakukan dua hal ini, Self Evaluation dan Performance Measurement, kedepan kita akan bisa melakukan Continuous Quality Improvement untuk diri kita masing-masing, sehingga kapasitas kita meningkat.

Harapannya, dengan  peningkatan kapasitas diri akan menghasilkan  nilai (value) yang baik untuk bangsa ini. Bagaimana caranya membangun budaya sehingga bisa memberikan dampak (value) yang besar? Yang pertama, perlu adanya self awareness dari kita sehingga kita menjadi pelaku perubahan itu sendiri. Karena perubahan adalah satu hal yang pasti, jika tidak bisa menyesuaikannya kita akan tergilas oleh perubahan itu sendiri. Menjadi pelaku perubahan artinya setiap individu tak cukup merasa terinspirasi dari suatu kejadian atau pembicaraan, tetapi juga harus berusaha bagaimana selanjutnya bisa menginspirasi lingkungan disekitarnya. Yang kedua, kita perlu menguatkan sikap adaptive dan passionatedalam menjalankan atau menghadapi kondisi suatu keadaan apapun. Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian dan tidak berpola ini, proses adaptasi dan pantang menyerah dari suatu keadaan ini merupakan suatu keniscayaan. Kebiasaan untuk senantiasa memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan adalah sesuatu  yang tidak bisa ditawar. Yang terakhir, perlu disadari bahwa kolaborasi sangat diperlukan saat ini. Dengan kompleksitas permasalahan yang tinggi, kita memerlukan seluas-luasnya sudut pandang. Karena kolaborasi dengan lingkungan sekitar sangat diperlukan sehingga kontribusi kita bisa maksimal untuk lingkungan. Satu faktor penting dalam kolaborasi adalah kemampuan komunikasi. Seharusnya komunikasi bisa melahirkan suatu komitmen bersama. Jika tidak bisa menjadi komitmen justru akan mengancam ataupun merusak kesempatan-kesempatan yang sudah datang. 

Hasil transformasi dari budaya menjadi suatu yang bernilai (Culture to Value), salah satunya  ditunjukkan dalam bentuk Service Excellence. Proses melengkapi sudut pandang sangatlah penting untuk menciptakan service excellence. Jangan hanya memikirkan diri sendiri, namun juga perhatikan orang lain sehingga mendapatkan manfaat yang lebih besar.

Sustainability (keberlanjutan) menjadi penting dimasa sekarang bagi  instansi termasuk dunia pendidikan karena kepuasan para pemangku kepentingan menjadi poin yang sangat penting. Untuk menggapai kepuasan seluruh pemangku kepentingan, kita harus mampu berkreativitas, berinovasi dan bertransformasi dengan baik sehingga dapat melahirkan budaya kerja yang dampaknya tak hanya untuk diri sendiri atau lingkungannya, bahkan lebih jauh adalah untuk bangsa ini. Indonesia harus menghasilkan SDM dan generasi yang unggul, maka dengan Semangat Kebangkitan Nasional di era pandemi ini akan melekat di dada dan menjadi penguat bagi seluruh elemen masyarakat. Mari bangkit dengan senantiasa berkolaborasi dan saling menginspirasi. Mari bangkit untuk membangun generasi unggul dan berkontribusi positif untuk negeri kita, Bangsa Indonesia.

 

Telah dipublikasikan di : https://yooreka.id/levelup/prof-dr-adi-wijaya-kebangkitan-nasional-melalui-pembangunan-generasi-unggul-menuju-indonesia-emas/

Metamorfosis Dunia Pendidikan di Masa Pandemi COVID-19

0
Photo: Dialog dengan orang tua mahasiswa Tel-U
 
Pandemi COVID-19, yang mengakibatkan perubahan secara tiba-tiba dalam keseharian individu dan masyarakat dalam beraktifitas, membawa perubahan yang luar biasa untuk semua bidang. Salah satu yang terdampak paling besar adalah bidang pendidikan, sehingga belajar dari rumah merupakan keniscayaan.
 
Sekitar 7,5 juta mahasiswa dan hampir 45 juta pelajar sekolah dasar dan menengah “dipaksa” melakukan pembelajaran dari rumah. Disrupsi teknologi terjadi di dunia pendidikan, di mana pembelajaran tatap muka yang dilaksanakan 100 persen di sekolah secara tiba-tiba mengalami perubahan yang sangat drastis. Tidak bisa ditampik bahwa lebih dari 50 persen pelajar dan mahasiswa berasal dari masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah — ini adalah data sebelum pandemi terjadi; data setelah pandemi mungkin bisa lebih besar dari itu. Seperti halnya prediksi para ekonom, pandemi ini berpotensi memperburuk kondisi berbagai sektor, terutama ekonomi masyarakat.
 
Pembelajaran dari rumah benar-benar dirasa berat bagi guru/dosen, para pelajar dan mahasiswa, bahkan orang tua. Semua lini masyarakat dipaksa bertransformasi dan beradaptasi pada kondisi pandemik ini. Banyak yang dapat dilakukan untuk setidaknya mengurangi dampak di bidang pendidikan, yakni melalui strategi pembelajaran jarak jauh (online). Bagi masyarakat yang mampu secara ekonomi, berpindah ke strategi pembelajaran online akan lebih mudah dilakukan meski pada kenyataannya pasti banyak upaya dan tantangan yang dihadapi baik oleh guru/dosen maupun para pelajar dan mahasiswa, bahkan orang tua mereka.
 
Yang paling terkena dampak adalah masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Belum seragamnya proses pembelajaran terkait standar maupun kualitas capaian pembelajaran yang diinginkan hingga saat ini masih menjadi problematika besar di dunia pendidikan. Perubahan mendadak sistem pembelajaran yang berubah menjadi online, selain menimbulkan tekanan baik secara fisik maupun mental bagi siswa, guru, bahkan orang tua, juga membuat sekolah sulit menentukan tolok ukur capaian pembelajaran yang sama.
 
Jika pelaku dunia pendidikan tidak bertindak dengan cepat dan tepat, maka ketidaksetaraan fasilitas pembelajaran yang meliputi konektivitas internet dan peralatan komunikasi seperti laptop atau smartphone akan mengakibatkan kesenjangan yang semakin tajam.
 
Beruntung pemerintah telah mengantisipasi hal ini melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dengan menginisiasi program Belajar dari Rumah. Program ini akan ditayangkan di TVRI mulai 13 April 2020. TVRI, yang selama ini menjadi media satu arah dalam menyampaikan informasi publik, menjadi solusi yang inovatif ketika dimanfaatkan menjadi sumber informasi dan sumber edukasi bagi dunia pendidikan, terutama mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah. Positioning TVRI bergeser di benak generasi milenial pada saat ini: di kala generasi milenial sudah mulai tidak berinteraksi dengan tayangan di TVRI, siswa sekarang kembali intens mencari sumber informasi dan menjadikan media televisi sebagai sumber belajar satu arah.
 
Namun demikian, efektivitas dari program ini tentunya tidak bisa disetarakan dengan interaksi pembelajaran langsung. Perbedaan pola pembelajaran yang biasanya on-site menjadi online, yang biasanya pembelajaran tatap muka menjadi tatap layar, memunculkan peluang baru di dunia pendidikan untuk terus dikembangkan.
 
Transformasi dan adaptasi menjadikan peranan orang tua sebagai kunci keberhasilan untuk menghadapi situasi ini. Orang tua, sebagai pintu pertama perubahan ini, harus mampu beradaptasi terlebih dahulu sehingga orang tua mampu menjadi pendamping atau mentor perubahan bagi anak-anaknya di rumah. Semua orang tua berharap menjadikan anaknya orang yang terpelajar atau terdidik dengan baik (well-educated). Kenapa demikian, karena persoalan-persoalan yang akan muncul di masa depan bisa dipastikan akan bertambah kompleks dan rumit. Seseorang yang terdidik dengan baik dicirikan dengan sudut pandang yang lengkap dan perilaku yang baik dalam menghadapi berbagai masalah.
 
Oleh karena itu, masa pandemik ini menjadi sebuah peluang untuk menyadarkan setiap orang tua bahwa beban pendidikan anak tidak bisa hanya diserahkan kepada guru/dosen semata, karena sesungguhnya proses pembelajaran merupakan proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Orang tua yang menjadi mentor dan pendamping di rumah merupakan role model perubahan sikap bagi siswa dalam berperilaku dan menghadapi permasalahan saat ini. Orang tua harus mampu belajar kembali bersama anak-anak di rumah, menanamkan pola berpikir yang positif sehingga mampu menghadapi pandemi ini sebagai sebuah polah hidup baru yang harus dibiasakan untuk dijalani. Sudah sepatutnya kesadaran semacam ini muncul dari setiap elemen pendidikan, guru/dosen, para pelajar, atau mahasiswa (baca: pembelajar), termasuk orang tua. Karena sesungguhnya, pembelajaran tidak hanya fokus pada objek yang dipelajari, tetapi setiap pendidik dan pembelajar fokus juga pada bagaimana caranya berpikir dan berperilaku terhadap yang dipelajarinya. Hal ini berarti ranah pembelajaran tidak hanya mencakup keahlian/skills, juga bukan saja terhadap ilmu/knowledge tetapi juga mencakup pola pikir/mindset dalam menghadapi suatu permasalahan. Terbentuknya pola pikir yang siap leading dalam menghadapi kompleksitas dan kerumitan yang akan muncul pada masa mendatang menjadi bekal penting bagi setiap individu. Selain itu pola pikir positif merupakan syarat cukup agar seseorang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dan juga berperilaku yang baik pula. Pola pikir positif akan memudahkan dalam implementasi setiap materi pembelajaran yang diperlukan oleh para pembelajar (pelajar dan mahasiswa). Di sinilah peranan orang tua sebagai mentor/pendamping dan juga role model sesungguhnya.
 
Nelson Mandela pernah berkata bahwa pendidikan merupakan senjata paling ampuh yang dapat digunakan untuk mengubah dunia. Sementara itu, Malcolm X juga berpendapat bahwa pendidikan merupakan paspor untuk masa depan, karenanya hari esok merupakan milik orang-orang yang mempersiapkan diri pada hari ini. Tentunya peran kita semua adalah sebagai pendidik dan pembelajar. Suatu saat, pelajar dan mahasiswa berperan sebagai pembelajar, di saat lain mereka berperan sebagai pendidik, paling tidak untuk mendidik dirinya sendiri dalam kedisiplinan dan menanamkan kesadaran untuk terus berperilaku baik. Begitu juga guru/dosen, termasuk orang tua, tidak mungkin bisa menjadi pendidik yang baik jika tidak pernah mau menjadi pembelajar yang baik. Ali Bin Abi Thalib pun mengingatkan, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”
 
Segala proses untuk menjadi pendidik maupun pembelajar yang baik tentunya menjadi tanggung jawab bersama. Harapannya, sejauh mana peran kita dalam mengemban amanah sebagai pendidik maupun pembelajar, tetap terbungkus rapi dalam ikhtiar maksimal yang dikelola penuh keihklasan dan kesabaran, terutama di masa pandemik ini. Semoga pandemi COVID-19 lekas berakhir, semua warga bangsa senantiasa sehat, dan proses kehidupan dapat berjalan normal kembali dengan menciptakan manusia-manusia baru yang memiliki pola pikir positif yang sarat solidaritas sosial.
 
 
Publikasi di :  https://kumparan.com/kumparantech/metamorfosis-dunia-pendidikan-di-masa-pandemi-covid-19-1tK7GRI8RjV/full
Go to Top