Archive for July, 2015

Bahagia karena syukur

4

Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia , tentunya ADOLT MERCKLE, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.

Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia , tentunya MICHAEL JACKSON, penyanyi terkenal di USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis.

Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia , tentunya G. VARGAS, Presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya.

Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia , tentunya MARLIN MONROE, artis cantik dari USA, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga overdosis.

Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia , tentunya THIERRY COSTA, Dokter Terkenal dari Perancis, tidak akan membunuh dirinya akibat acara di televisi.

Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, BUKAN ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, kuasanya, cantiknya,  sehatnya, atau sesukses apapun hidupnya.

Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri

mampukah ia mau mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal.

“Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu. kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah doborong oleh mereƙα.”

“Kalau kebahagiaan  itu ada di suatu tempat, pasti belahan lain di bumi ini akan KOSONG karena semua orang akan kesana berkumpul dimana kebahagiaan itu berada .”

Untungnya kebahagiaan  itu berada di dalam hati setiap manusia.

Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu.

“Yang kita perlukan adalah hati yang bersih dan ikhlas serta pikiran yang jernih, maka kita bisa menciptakan rasa bahagia itu kapanpun, dimanapun dan dengan kondisi apapun.”

Kebahagiaan itu hanya dimiliki oleh “Orang-orang  yang dapat bersyukur“.

“JIKA ANDA  TIDAK MEMILIKI APA YANG ANDA SUKAI, MAKA SUKAILAH APA YANG ANDA MILIKI SAAT INI”…….

Bersyukur adalah suatu kemampuan yang bisa dipelajari oleh siapapun..

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa bersyukur, aamiin YRA

 

Source: http://onedayonejuzz.blogspot.com/2014/08/jika-kekayaan-bisa-membuat-orang.html

Taqwa dan cinta dunia

0

Abu Bakar Ash-Shiddiq RA pernah mengungkapkan nasihat untuk kita semua, agar tidak terperosok dalam kegelapan yang bernama cinta dunia (hubb al-dunya). Ini didasari oleh ungkapan Rasulullah SAW yang diriwayatkan Baihaqi, ”Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.” Dunia hanyalah hiasan sementara yang bisa menjerumuskan jika kita salah orientasi.
Alloh SWT mengingatkan kita dalam Q.S Al Kahfi : 46, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Kegelapan yang diungkapkan Abu Bakar, menyebabkan hawa nafsu tidak terkendali dan akan merusak segala aspek ibadah kita. Karena hawa nafsu cenderung membawa kita pada hal-hal yang kurang baik. Apa solusinya? Penerang dari kegelapan cinta dunia adalah ketaqwaan. Selepas ramadhan, derajat ketaqwaan yang menjadi tujuan dalam berpuasa, semoga tercapai secara paripurna. Salah satu nilai tertinggi ibadah puasa ialah pembebasan manusia dari ketergantungan terhadap dunia materi (Abdul Munir Mulkan).

Sejalan dengan itu, saya tertarik dengan salah satu ungkapan Abu Bakar yang lain, yakni “Orang yang cerdas ialah orang yang taqwa”
Sesungguhnya, hanya Alloh yang mampu mengukur derajat taqwa seseorang. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13). Namun demikian, parameter tersebut bisa dilihat dari bagaimana orientasi kita terhadap dunia.

Diantara kita (biasanya) bersepakat bahwa kita tidak cinta dunia. Sayangnya, itu terjadi hanya dalam kondisi normal. Bagaimana saat kondisi tertekan atau kekhawatiran sedang melanda, kita bisa mengukur sendiri… 🙂 Seberapa besar kecintaan kita pada dunia.

Sesungguhnya, dunia bukanlah tujuan.

Dunia ini hanyalah perantara untuk mencapai akhirat yang lebih baik. Sayyidina Ali pernah mengungkapkan: “Janganlah kalian menuntut sesuatu dari dunia yang lebih besar dari pada apa yang bisa menyampaikanmu ke akhirat.”

Semoga kita menjadi orang yang berhasil menguasai dunia, BUKAN yang dikuasai dunia… Aamiin YRA

Happy eid mubarak

0

TextArt_150716200106

Waktu senantiasa berlalu dan tak akan pernah kembali. Karenanya sangat tepat jika Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa yang paling jauh dari kita semua adalah masa lalu. Rasanya baru kemarin kita bersemangat mempersiapkan diri untuk memasuki bulan Ramadhan, bulan maghfirah yang penuh berkah. Kini, Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita, dan kita tidak pernah tahu apakah kita masih bisa berjumpa dengan Ramadhan berikutnya atau tidak. Semoga Alloh mempertemukan kita dengan Ramadhan berikutnya, aamiin YRA. Pada setiap akhir Ramadhan, sebagian besar orang-orang shalih senantiasa meneteskan air mata karena Ramadhan telah berlalu meninggalkannya dan mereka khawatir tidak akan bertemu lagi bulan Ramadhan yang akan datang.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata dalam sebuah khutbah shalat ‘Idul Fitri, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah berpuasa karena Allah selama tiga puluh hari, berdiri melakukan shalat selama tiga puluh hari pula, dan pada hari ini kalian keluar seraya memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut.” Salah seorang di antara para jama’ah terlihat sedih. Tak lama kemudian, seseorang bertanya kepadanya, “Sesungguhnya hari ini adalah hari bersuka ria. Kenapa engkau malah terlihat bermuram durja? Ada apa gerangan?”
Orang itu menjawab, “Sesungguhnya, ucapanmu adalah benar. Namun demikian, aku hanyalah hamba yang diperintahkan oleh Rabb-ku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.” Ia begitu khawatir dengan kondisi ini.
Kekhawatiran serupa juga pernah dirasakan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Menurut suatu riwayat, di suatu penghujung Ramadhan, Sayyidina Ali bergumam, “Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang amalannya diterima agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang amalannya ditolak agar aku dapat ‘melayatnya’.”
Hal serupa juga pernah diungkapkan oleh Abdullah bin Mas’ud RA, “Siapakah gerangan di antara kita yang amalannya diterima untuk kita beri ucapan selamat, dan siapakah gerangan di antara kita yang amalannya ditolak untuk kita ‘layati’. Wahai orang yang amalannya diterima, berbahagialah engkau. Dan wahai orang yang amalannya ditolak, keperkasaan Allah adalah musibah bagimu.”

Ungkapan-ungkapan diatas, sangatlah wajar. Karena tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita bisa berjumpa kembali dengan bulan yang penuh berkah, rahmat, dan maghfirah pada tahun berikutnya. Namun demikian, terkadang kita tidak merasakan kesedihan saat Ramadhan meninggalkan kita. Bahkan diantara kita terkadang larut dalam kegembiraan yang berlebihan dalam menyambut kedatangan Hari Raya ‘Iedul Fitri. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa diberikan kesadaran dalam menjalani kehidupan fana’ ini, sehingga segala amalan ramadhan kita diterima Alloh SWT, aamiin YRA.

Go to Top