cermin

Cermin adalah kaca bening yg salah satu mukanya dicat dengan air raksa atau sejenisnya sehingga dapat memperlihatkan bayangan apapun yg ditaruh di depannya. Kegiatan bercermin biasa dilakukan oleh seseorang sebagai ajang untuk mengevaluasi diri.
Magic Mirror on the wall, who is the fairest one of all?” Itu ungkapan sang Ratu pada cermin ajaib dalam film Snow White and the Seven Dwarfs (1937).

Ketika apa yang tampak di cermin tak sesuai harapan, maka segera memperhatikan kekurangan tersebut dan memperbaikinya. Saya tidak sedang mebicarakan cermin dalam makna denotatif ataupun cermin ajaib milik sang ratu. Cermin yang dibicarakan disini adalah cermin kehidupan (muhasabah) yang digunakan untuk  memperhatikan diri sendiri, lebih tepatnya introspeksi diri.
Disadari atau tidak, introspeksi tersebut tak kan pernah terjadi… tanpa ada keinginan sendiri untuk memperbaiki dari diri.

Sungguh beruntung saat anda memiliki banyak cermin, sehingga anda bisa memperhatikan dari segala sudut dan selanjutnya memperbaiki diri. Namun alangkah sayangnya… saat ada orang lain yang menyampaikan tentang kekurangan kita, ternyata kita tidak siap menerimanya bahkan tak jarang  merasa terhina.

LUPA..
Bukankah itu merupakan cermin sebagai ajang refleksi untuk senantiasa memperbaiki diri
PANIK..
Khawatir orang lain tahu kekurangan kita, padahal senyatanya itulah ungkapan sayang dari Alloh agar kita senantiasa memperbaiki diri
MALU..
Karena merasa seperti ditelanjangi didepan umum. Sepertinya lebih ridho dengan azab neraka dari pada malu di dunia… na udzubillah.

Cermin itu harus dihancurkan!!!
Seperti halnya yang dilakukan sang Ratu saat magic mirror menyampaikan tak sesuai dengan yang dikehendaki.

Terkadang kita sepakat bahwa rasa sayang Alloh itu diberikan dalam bentuk apapun, baik nyaman maupun tidak nyaman bagi hati kita.

Tetapi, saat muncul  kritik dari ‘cermin kehidupan’  dan tidak sesuai harapan, kita lupakan hal itu, panik dan rasa malu lebih dikedepankan.. kemana kesadaran itu?

Demikian pula, saat kita jadi cermin… seyogyanya kita sampaikan juga sesuatu kekurangan dari yang bercermin secara obyektif. Sungguh tercela, saat sang cermin menambahkan cerita diluar bagian  yang nampak didalam cermin.

Beruntunglah orang yang memiliki cermin yang jelas dan obyektif, sehingga setiap yang bercermin dapat mengambil manfaat darinya untuk introspeksi dan memperbaiki diri.

Wallahu ‘alam bishowab
Semoga kita mampu menjadi cermin yang objektif dan sekaligus menjadi orang yang mampu bercermin dalam kehidupan ini, sehingga kita termasuk orang yang senantiasa memperbaiki diri… aamiin YRA