Shalawat

Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ala ‘aali sayyidina Muhammad

Pada bulan Rabiul Awal, kita sering memperingati Maulid Nabi atau yang lebih dikenal sebagai hari kelahiran Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassalam. Tentunya berbagai cara bisa kita lakukan untuk mewujudkan rasa cinta pada yang mulia, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassalam dan mengenang kemuliaannya. Pada kesempatan ini disampaikan sebuah cerita tentang detik-detik terakhir wafatnya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassalam. Semoga kisah ini  menambahkan rasa cinta kita kepada Rosululloh, aamiin YRA.

Sebelum Rosulolloh wafat, beliau melakukan ibadah haji wada’ (haji perpisahan). Pada saat tersebut turun firman Allah SWT,  Al Maidah ayat 3,  ”Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan nitmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”  Seiring turunnya firman Alloh ini, Abu Bakar menangis. Sahabat Rosulloh tersebut menyampaikan bahwa Ini adalah berita kematian Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassalam.

Sepulangnya dari haji wada, beliau terlihat sakit. Tiga hari sebelum Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassalam wafat, sakit beliau semakin terlihat bertambah parah. Selanjutnya beliau meminta mengumpulkan istri-istrinya dan memohon izin untuk tinggal di rumah Siti ‘Aisyah, dan istri-istri beliau mengizinkannya.  Rosululloh berkeinginan untuk berdiri, akan tetapi beliau tidak mampu. Datanglah ‘Ali bin Abi Thalib membantu memapahnya, lalu Rosululloh dipindahkan ke rumah Siti ‘Aisyah.

Saat Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wa salam berkhutbah pada minggu terkahir sebelum beliau wafat, beliau bersabda “Wahai umatku, kita semua dalam kekuasaan Allah dan dalam cinta kasih-Nya. Maka taat dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal kepada kalian, yaiut Al-Qur’an dan Sunnahku. Barangsiapa yang mencintai Sunnahku, berarti mencintaiku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk Surga bersama-sama denganku.”  Khutbah singkat tersebut diakhiri dengan pandangan mata yang tenang dari Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassalam kepada para sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata Rosululloh dengan berkaca-kaca, Umar Bin Khathab tersengal menahan nafas dalam tangisnya. Utsman Bin ‘Affan menarik nafas panjang. Ali bin Abi Thalib pun hanya menundukkan kepalanya.

Pada hari senin, matahari sudah mulai tergelincir, namun pintu rumah Rosulullah Sholallohu ‘alaihi Wa salam masih tertutup. Didalam rumah tersebut, Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wa salam terbaring lemah dengan kening yang berkeringat sampai membasahi pelepah kurma yang digunakan sebagai alas tidurnya. Sesaat kemudian, tiba-tiba dari luar pintu terdengar salam.

Sang tamu bertanya, “Assalamu’alaikum. Bolehkah saya masuk?”

Siti Fatimah tidak langsung mengijinkannya  masuk, “Wa’alaikumsalam. maaf ayahku sedang sakit.”

Ia kembali menemui Rosululloh dan ternyata beliau sudah membuka mata sembari bertanya, “Siapakah dia wahai anakku?”

Siti Fatimah menjawab dengan lemah lembut, “Tidak tahu Ayah,  sepertinya baru kali ini aku melihatnya.”

Selanjutnya Rosulullah menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan jiwa, sembari bersabda,  “Ketahuilah wahai Fatimah. Dialah yang akan menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah juga yang akan memisahkan kita dengan dunia. Dialah Malaikatul Maut.”

Seketika Fatimah terhenyak dan berusaha menahan tangisnya.

Ketika Malaikat Izroil mendekat, Rosulullah menanyakan kenapa Malaikat Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggillah Malaikat Jibril yang sudah bersiap di atas langit dunia untuk menyambut kedatangan Ruh kekasih Allah yang begitu Mulia ini.

Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wa salam bertanya dengan suara yang lemah, “Jibril, katakanlah apa hakku nanti di hadapan Allah.”

Malaikat Jibril menjawab, “Semua pintu langit telah dibuka. Para Malaikat telah menanti Ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu.”

Namun demikain, ternyata yang disampaikan Malaikat Jibril tidak membuat hati Rosululloh senang. Sorot mata beliau masih dipenuhi kecemasan.

Malaikat Jibril bertanya, “Ya Rosululloh, apakah engkau tidak senang mendengar kabar ini?”

Rosululloh bersabda, “Katakan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

Malaikat Jibril menjawab, “Jangan khawatir ya Rosululloh. Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku, yakni Kuharamkan Syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya.”

Detik demi detik semakin berlalu. Saatnya Malaikat Izrail (Maut) melaksanakan tugasnya. Perlahan ruh Rosulullah Sholallohu ‘alaihi Wa salam ditariknya. Tampak sekujur tubuh Rosululloh bersimbah keringat dingin. Urat  leher beliau mulai menegang.

Rosululloh menyampaikan sesuatu ke Malaikat Jibril dengan nada lirih,   “Jibril, betapa sakitnya Sakratul Maut ini.”

Fatimah tak kuasa menatap Ayahnya, ia memejamkan matanya. Sayyidina Ali pun yang berada di sampingnya menunduk semakin dalam. Malaikat Jibril pun memalingkan wajahnya.

Rosululloh bertanya,  “Jibril, jijikkah engkau melihatku hingga engkau palingkan wajahmu dariku?”

Malaikat Jibril berkata,  “Ya Rosululloh, siapa yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajalnya?”

Kemudian terdengar Rosululloh memekik karena merasakan sakit yang tak tertahankan. “Ya Allah, dahsyat sekali sakitnya sakaratul maut ini. Timpakan saja semua siksa sakaratul maut ini kepadaku, janganlah Engkau timpakan pada umatku.”

Sekujur tubuh Rosulullah mulai dingin, sebagian tubuhnya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya mulai bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya kepada Rosulullah Sholallohu ‘alaihi Wa salam.

“Uushikum bishshalaati wamaa malakat aymanukum.”

Rosululloh berpesan, “jagalah sholat kalian dan peliharalah orang-orang lemah diantara kalian.”

Tangisan hadirin pun tak tertahankan…. Sahabat Rosululloh saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya. Sayyidina Ali pun kembali mendekatkan telinga di bibir Rosulullah yang mulai tampak kebiru-biruan.

“Ummatii…Ummatii….Ummatii.”

Bagaimana nasib umatku.. umatku.. umatku.

Inna lillahi wainna ilaihi raji’un, manusia paling mulia telah kembali yang maha memiliki segalanya, di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 Hijriyah.  Smoga sholawat dan salam senantiasa tercurah untuk Rosululloh Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wassalam.

Ila Hadroti Sayyidina wa Habibina Rosulullohi Muhammad Sholallohu ‘Alaihi Wassalam Al Fatihah …

Image’s cited from : http://channel-nahdliyyin.blogspot.com/2013/05/dahsyatnya-bacaan-sholawat.html