braille

Kira-kira lebih dari 200 tahun yang lampau, di Perancis di sebuah desa kecil disana, hiduplah sebuah keluarga sederhana di sebuah rumah batu yang mungil. Kepala keluarga yang menghidupi istri dan empat orang anaknya dengan bekerja membuat pelana kuda dan sadelnya bagi para petani di daerahnya. Anak bungsu keluarga tersebut semenjak dari kecil sudah menunjukkan bakat-bakat menonjol, seperti cerdik, banyak akal dan mempunyai rasa penasaran akan sesuatu yang terus menerus. Saat dirinya masih balita, anak keempat ini sering sekali diajak ke bengkel kerja ayahnya, dimana disana ia bermain dengan berbagai peralatan yang ada dan memperhatikan proses pembuatan pelana yang ayahnya kerjakan. Tak disangka, suatu hari… saat si bungsu sedang bermain dengan benda tajam yang biasanya digunakan ayahnya untuk melubangi bahan dari kulit, benda yang tajam itu tidak sengaja mengenai salah satu matanya. Luka tersebut kemudian menjadi infeksi dan menyebar ke mata yang lain, sehingga setahun kemudian ia pun menjadi seorang tuna netra.

Ayah dan ibunya sangat khawatir dengan masa depannya,  karena kebutaan tersebut. Namun dengan kemampuannya dan daya ingat yang luar biasa, anak tersebut berhasil menjadi juara kelas. Di usia 10 tahun, anak tersebut berhasil meraih beasiswa dari Royal Institution For Blind Youth di Paris, yang merupakan satu-satunya sekolah tuna netra yang ada saat itu di dunia. Buku-buku di sekolah tersebut dicetak dengan menggunakan sistem emboss, yaitu cetak menonjol sehingga bisa diraba oleh tangan.  Di sekolah ini ia berpikir banyak mengenai sistem emboss yang ada, dia berpikir bagaimana mengembangkan sistem itu karena pada kenyataannya sistem emboss itu masih memiliki kelemahan karena tidak memungkinkan untuk para tuna netra menulis tulisannya sendiri dengan sistem emboss. Artinya komunkasi sistem embos hanya satu arah, yakni membaca.

Suatu hari ia datang ke sebuah ceramah dari seorang yang bekerja di kemiliteran yang mengembangkan sistem sonografi, yaitu metode pertukaran kode menggunakan sistem emboss. Akhirnya, ia kemudian mengembangkan sistem sonografi ini menjadi sistem yang dapat berguna dan lebih bermanfaat untuk kaum tuna netra. Setelah melalui serangkaian ujicoba, akhirnya saat ia masih berumur 15 tahun berhasil membuat sebuah sistem yang memakai enam titik dan disesuaikan untuk ke dua puluh enam alfabet. Bahkan ia merancang kode untuk not musik dan matematika. Sistem rancangannya tersebut ini juga memungkinkan teman-teman tuna netranya untuk menulis dengan membuat lubang-lubang di kertas. Pada usianya yang ke-20 tahun, rancangan tersebut dikenalkan ke publik. Sampai akhirnya, ia melakukan demonstrasi di Paris Exposition of Industry, dan karyanya dipuji oleh pemimpin Perancis pada saat itu yaitu Raja Louis Phillippe. Remaja buta tersebut tidak lain adalah Louis Braille, yang hingga saat ini karyanya digunakan dan bermanfaat untuk puluhan juta tuna netra di dunia.

Rangkaian cerita itu, memberikan inspirasi bagaimana kerja keras dna kerja cerdas  seorang anak remaja tuna netra yang terus berusaha sehingga karyanya bermanfaat sesama manusia.  Kerja keras dan kerja cerdas ditunjukkan olehnya untuk mencapai impiannya. Kerja keras yang lain ditunjukkan oleh Ibnu Sina serang tokoh bidang kedokteran. Ibnu Sina dengan kekuatan logikanya dikenal pula sebagai filosof tak tertandingi. Ibnu Sina pemempelajari pandangan-pandangan Aristoteles di bidang filsafat. Ketika menceritakan pengalamannya mempelajari pemikiran Aristoteles, Ibnu Sina mengaku bahwa beliau membaca kitab Metafisika karya Aristoteles sebanyak 40 kali. Namun demikian ia hanya menghafal kontennya tanpa memahami maksudnya. Beliau menguasai maksud dari kitab itu secara sempurna setelah membaca syarah atau penjelasan ‘metafisika Aristoteles’ yang ditulis oleh Farabi, filosof muslim sebelumnya.

Begitu pun kita, berkerja keras untuk mencapai impian. Kita senantiasa mengeluarkan segenap kemampuan untuk meraih impian tersebut. Saat kita sedang berpuasa ramadhan, impian kita adalah menjadi orang yang bertaqwa (Seperti amanat Al-Baqarah 183).  Saat saya masih duduk di bangku sekolah, saya menyangka bahwa taqwa adalah output  dari proses puasa ramadahan yang kita jalani. Namun seiring berjalannya waktu, saya memahami bahwa puasa adalah proses menuju taqwa. Bagaimana kita yakin dengan derajat taqwa yang menjadi tujuan kita meraihnya dengan sempurna, sementara puasa yang kita jalankan… penilaiannya hanya Alloh yang tahu.

Sesungguhnya puasa adalah memerangi hawa nafsu. Karena hawa nafsu yang tidak terkendali dan akan merusak segala aspek ibadah kita. Terkadang, hakikat kita bekerja keras untuk mencapai impian (taqwa), tapi oleh hawa nafsu.. orientasi itu terkadang berbelok ke arah cinta dunia (tidak sampai tujuan akhir). Abu Bakar Ash-Shiddiq RA pernah mengungkapkan nasihat untuk kita semua, agar tidak terperosok dalam kegelapan yang bernama cinta dunia (hubb al-dunya). Ini didasari oleh ungkapan Rasululloh SAW yang diriwayatkan Baihaqi, ”Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.” Dunia hanyalah hiasan sementara yang bisa menjerumuskan jika kita salah orientasi.  Alloh SWT mengingatkan kita dalam Q.S Al Kahfi : 46, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” Selepas ramadhan, derajat ketaqwaan yang menjadi tujuan dalam berpuasa, semoga tercapai secara paripurna. Salah satu nilai tertinggi ibadah puasa ialah pembebasan manusia dari ketergantungan terhadap dunia materi (Abdul Munir Mulkan).

Sesungguhnya, hanya Alloh yang mampu mengukur derajat taqwa seseorang. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13). Namun demikian, parameter tersebut bisa dilihat dari bagaimana orientasi kita terhadap dunia. Diantara kita (biasanya) bersepakat bahwa kita tidak cinta dunia. Sayangnya, itu terjadi hanya dalam kondisi normal. Bagaimana saat kondisi tertekan atau kekhawatiran sedang melanda, kita bisa mengukur sendiri… 🙂 Seberapa besar kecintaan kita pada dunia. Sesungguhnya, dunia bukanlah tujuan. Dunia ini hanyalah perantara untuk mencapai akhirat yang lebih baik. Sayyidina Ali RA pernah mengungkapkan: “Janganlah kalian menuntut sesuatu dari dunia yang lebih besar dari pada apa yang bisa menyampaikanmu ke akhirat.”  Jangan biarkan dunia merasuki hati kita, biarkanlah ia hanya dalam genggaman saja. Dan ini hanya bisa dicapai dengan kerja keras dan kerja cerdas kita semua (tidak dengan sendirinya) dan istiqomah dalam mencapai tujuan.

Semoga dengan berpuasa, kita menjadi orang yang berhasil menguasai dunia, BUKAN yang dikuasai dunia… sehingga kita termasuk orang yang bertaqwa, Aamiin YRA

 

Image’s cited from : http://brailleministries.org/

*Sebagaian besar materi ini telah disampaikan dalam acara kultum ramadhan di Masjid Syamsul Ulum, Universitas Telkom.