Screen Shot 2014-08-05 at 9.43.34 AM

 

Waktu terus berlalu dan tak akan pernah kembali.

Terlalu asyik bermain, terlalu sibuk bekerja terkadang melalaikan kita.

Akhirnya, lupa bahwa senja telah datang… matahari segera terbenam…  kegelapan segera datang.

Senja itu (denotatif)  sangat jelas bisa diprediksi, dari menit ke menit… bahkan dari detik ke detik.

Namun senja usia kita, tak akan pernah ada yang tahu kecuali Sang Khalik.

Adakah ‘bekal penerang’  kita ketika  senja itu datang?

Setiap yang berjiwa akan merasakan mati…” (Ali ‘Imron :185).

Excatly,  terkadang saat izroil datang…  ajal ditenggorokan barulah kita tersadar dan muncul sejuta penyesalan atas apa yang dilalui selama hidup.

Saat itu, barulah sadar bahwa “… Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (Ali ‘Imron :185).

 

Saat kematian datang tidak terduga,  beberapa orang biasa mengungkapkan rasa ketidakpercayaan.

“masa sih?”, “kok  bisa?”, “bagaimana bisa terjadi?”, “unbelievable”, dan lain-lain.

Dengan pemahamannya, seseorang menimpali, “itu sudah takdir”

‘Seseorang yang kritis’ pun ikut berujar, “kita tidak  usah berbuat apapun, jika sudah takdir maka akan kita terjadi”

Ia lupa bahwa “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka,” (Ar Raad : 11)

‘Si kritis’ pun menyodorkan ayat yang lain,  “… dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Ali ‘Imron : 29)

Ia pun masih penasaran “sejauh mana hubungan takdir Alloh dengan segala upaya kita?”

Sesungguhnya segala yang kita alami telah tertulis di Lauh Mahfuzh (sebut aja takdir).

 

Menurut pemahaman saya, takdir tergambar dalam suatu  flowchart (ada pilihan dan looping).

Misalkan takdir yang dimaksud meliputi rezeki, jodoh, dan kematian

Rezeki sudah jelas porsinya, bisa ditempuh dengan cara halal atau haram (silahkan pilih). PIlihan itulah yang akan membawa kita ke Syurga atau Neraka.

Terkait dengan jodoh, bermacam liku yang dilalui, kadang datang tak disangka, sampai akhirnya pengamat mengatakan “kalau sudah jodoh, tak akan kemana”.

Kematian pun (saya pikir), yang pasti adalah waktunya. Proses kematian itu bisa bermacam cara. Lagi-lagi ada ‘pilihan’

 

Kadang Takdir disebut juga dengan kosakata lain, yakni nasib.

Ketika ada kondisi yang tidak sesuai harapan maka seseorang akan mengatakan “ugh… sudah nasibku”

Padahal, jika kita sadar bahwa setiap tahap dalam kehidupan ini ibarat flowchart,

maka perlu kesadaran penuh dalam mengarungi kehidupan ini, sehingga kita bisa memaksimalkan ikhtiar untuk merubah jalur sesuai dengan keinginan kita.

Ada yang menyela, “Itu sudah maksimal, bung!”

Saya perlu mengingatkan untuk tetap sabar (red nothings),  selayaknya orang yang beriman.. kesabaran itu adalah tiada berbatas.

Yakinlah, bahwa Alloh memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.

Percayalah… bahwa Alloh senantiasa memberikan yang terbaik.

Dengan demikian, semoga kita senantiasa termasuk hamba yang pandai bersyukur, aamiin YRA.

 

Dalam hidup ini terkadang kita mengalami looping process (renungkan)

Karenanya kita dianjurkan untuk memperhatikan apa yang kita lakukan, sehingga akan menjadi lebih baik (continuously improvement).

“… dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok…” (Al Hasyr: 18)

Benar bahwa waktu yang telah berlalu tak akan pernah kembali,

tapi banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki ‘nasib’ dengan mengambil pelajaran dari masa lalu.

 

Dr. ‘Aidh Al Qarni mengungkapkan  “Hidup ini adalah cerita pendek, dari tanah, di atas tanah, dan kembali ke tanah,

Lalu hisab (yg hanya menghasilkan dua kemungkinan); pahala atau siksa.”

Saya sepakat bahwa dalam kefana’an selayaknya kita senantiasa berhati-hati dalam meniti shirotil mustaqim yang kita lalui saat ini.

Karenanya, sandarkanlah segala keinginan kita pada yang Maha Kuasa atas segala sesuatu (red: the right choice).

Dengan demikian, semoga kita semua ‘bisa memilih’ takdir sehingga kita bias sukses dalam setiap tahapan kehidupan yang dilalui. Sukses yang dimaksud adalah

–        Tercapainya kepuasan pribadi (dengan bersyukur)

–        Mampu memberikan (sebesar-besarnya) manfaat bagi lingkungan

–        Bertambahnya timbangan kebaikan dimata Alloh SWT

Amiin YRA

 

Ini hanya sekedar dari hasil perenungan hamba Alloh yang lemah.

Mohon maaf atas segala kekurangan, sesungguhnya segala kebenaran adalah hanya milik Alloh.

 

 

*Flowchart adalah penggambaran secara grafik urutan prosedur  dari beberapa langkah  logis yang disusun secara sistematis.

**Lauh Mahfuzh adalah kitab tempat Allah menuliskan segala seluruh skenario/ catatan kejadian di alam semesta.

 

Image’s taken by : Agung Trisetyarso