Screen Shot 2014-08-12 at 8.38.24 AM

Seperti diketahui bahwa perang Badr merupakan salah satu perang besar bagi kaum muslim saat itu.

Para pahlawan Islam saat itu begitu luar biasa melawan para kafir, dan akhirnya mereka mendapat kemenangan.

Rasulullah ingin sekali memberikan penghargaan kepada para pahlawan ini. Lalu Rasulullah mengumpulkan mereka disuatu tempat pada hari jumat.

Pada saat para pahlawan Badr datang ke tempat pertemuan tersebut, tempat telah penuh sesak.

Orang-orang pada tidak mau memberi tempat kepada yang baru datang itu, sehingga para pahlawan itu terpaksa berdiri.

Rasulullah meminta berdiri orang-orang itu (yang lebih dulu duduk), sedang para pahlawan Badr disuruh duduk di tempat mereka.

Orang-orang yang diiminta pindah tempat merasa tersinggung perasaannya. Lalu mereka berkata, “Saya sudah disini dari tadi pagi ya Muhammad, kenapa kamu menyuruh kami pergi”

 

Karenanya, pada hari Jumat itu, Alloh menurunkan wahyunya seperti yang diungkapkan dalam surat Al Mujadalah ayat 11, yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu : ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberimu kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan : ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

 

Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merupakan rangkuman dari sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.

Sumber ilmu menurut ajaran Islam :

·  Qauliyah,  yaitu ilmu yang berasal dari ayat-ayat yang Allah firmankan dalam kitab-kitab-Nya dan menjadi pedoman hidup bagi manusia.

·  Kauniyah, yakni ilmu yang berasal karena kesempurnaan manusia yang diberikan akal  oleh Allah swt untuk berpikir dan menganalisa semua yang ada  diatas dunia.

Namun demikian, saat ini,  terkadang kauniyah begitu mendominasi.

Karenanya diperlukan kesadaran penuh dari kita dalam memahami ilmu yang bersifat kauniyah.

Jelas bahwa  manusia dengan akal, pikiran dan perasaan adalah ciptaan-Nya.

Sungguh absurd saat kauniyah lebih dikedepankan daripada qauliyah.

 

Kenapa diwajibkan  menuntut ilmu?

Karena kalau kita mengerjakan sesuatu amal  tanpa  tahu ilmunya, maka amalan  kita tidak ada nilainya dan tidak diterima oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Sepertihanya diuangkapkan oleh Imam Ghazali : “Ilmu tanpa amal adalah gila, dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia.”

Dalam kitab Talimul Mutaallim, Syekh az-Zarnuji,  dijelaskan  bahwa banyak sekali umat Islam di masanya yang akan  mengalami kegagalan dalam menuntut ilmu. Kegagalan tersebut  bukanlah kegagalan lulus atau tidak lulus sepertihalnya dalam ujian sekolah/kampus. Namun  lebih jauh lagi, kegagalan tersebut disebabkan karena kita tidak dapat menjadikan ilmu yang diperoleh itu  bermanfaat. Disinilah pentingnya kebermanfaatan untuk lingkungan kita.

Menurut Syekh Zarnuji, kegagalan ini disebabkan oleh beberapa hal yakni kekeliruan motivasi dalam  menuntut ilmu (niat), kurangnya ibadah, dan rendahnya sikap tawakkal (berserah diri kepada Allah),  kurang wara` (menjauhi makan barang haram), kurang zuhud (melepaskan ketergantungan terhadap materi). Sementara seluruh hal di atas merupakan syarat-syarat dan jalan yang dibutuhkan oleh setiap orang dalam mencapai ilmu pengetahuan yang diridhai Allah SWT.

 

Oleh karena itu, tidal berlebihan, munculnya ungkapan yang sering kita dengar, yakni  ”Man zada ilman wa lam yazdad hudan lam yazdad minallahi illa bu`dan.”

Artinya: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya akan tetapi tidak bertambah petunjuknya maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali semakin jauh dari Allah.”

Banyak sekali yang dipandang berilmu namun ‘tak kuasa’ untuk mengamalkan ilmunya.

Hal ini menjadikan ilmu yang dimilikanya menjadi sebuah pengetahuan kembali.

Karenanya, pengetahuan –>  ilmu –>  amal shaleh.

Tentunya, kualitas amal senantiasa tidak luput dari perhatian. Kita dituntut tak sekedar mengamalkan ilmu namun lebih dari itu, ilmu yang dimiliki selayaknya diamalkan dengan ikhlas dan benar. Amalan tidak akan diterima sampai seseorang itu ikhlas dan benar dalam beramal.  Yang   dimaksud ikhlas adalah amalan tersebut dikerjakan hanya karena Allah. Yang dimaksud benar dalam beramal adalah selalu mengikuti petunjuk-Nya. Jelas bahwa, orientasinya bukan untuk kesenangan atau kepentingan dunia. Ingat bahwa  dunia adalah kesenangan yang memperdaya  (red. dikala senja menjelang)

 

Imam Al Ghozali mengatakan bahwa barang siapa berilmu, mau mempraktekkan dan membimbing manusia dengan ilmunya bagaikan matahari. Selain menerangi dirinya juga menerangi orang lain dan bagaikan minyak kasturi yang harum yang menyebarkan keharumannya kepada orang lain yang berpapasan dengannya.

Jika sudah berilmu, terkadang jadi terjebak untuk “merasa pintar” padahal lebih baik “pintar merasa”. 
sehingga diharapkan kita menjadi orang yang berempati bagi masyarakat sekitar. Karenanya berhati-hatilah. Jangan sampai segala peringatan Alloh dalam ayat berikut menimpa kita. “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. ” (QS Al Furqan:23).

 

*Saya menuliskan judul “ilmu dan amal” dengan huruf kecil semua… karena ilmu dan amal kita hanya  terjadi karena rakhmat dan pentunjuk Alloh. Tanpa-Nya… sungguh tiada daya dan upaya sehingga kita  berillmu dan mampu mengamalkannya.